Laman

LIRIK LAGU IWAN FALS


Pulanglah (buat Munir Said Thalib)

Padi menguning tinggal di panen
Bening air dari gunung
Ada juga yang kekeringan karena kemarau
Semilir angin perubahan
Langit mendung kemerahan
Pulanglah kitari lembah persawahan
Selamat jalan pahlawanku
Pejuang yang dermawan
Kau pergi saat dibutuhkan saat dibutuhkan
Keberanianmu mengilhami jutaan hati
Kecerdasan dan kesederhanaanmu
Jadi impian
Pergilah pergi dengan ceria
Sebab kau tak sia sia
Tak sia sia
Tak sia sia
Pergilah kawan
Pendekar
Satu hilang seribu terbilang
Patah tumbuh hilang berganti
Terimalah sekedar kembang
Dan doa doa
Suci sejati, suci sejati
* Munir Said Thalib  adalah pejuang hak asasi manusia dan demokrasi di Indonesia. Beliau telah mati dibunuh.



Tak Pernah Terbayangkan

Tak pernah terbayangkan
Bila harus berjalan tanpa dirimu
Tak pernah terfikirkan
Bila aku bernafas tanpa nafasmu
Nafasmu
Takdir sudah pertemukan kita…
Tuk berdua dan saling menjaga
Dan tak mau aku melewati
Semua ini tanpamu
Kau hangatkan genggaman tanganku
Dan berkata akulah milikmu
Dan tak mau aku menjalani
Dunia ini tanpamu
Takdir sudah pertemukan kita

Mabuk Cinta

Pagi ini ayamku berkokok keras sekali
Seperti memaki bangunkan aku dari mimpi
Hari ini pacarku yang cantik telah kembali
Melelehkan hatiku yang selama ini mati suri
Aku bahagia (Sekali lagi ku jatuh cinta)
Hari istimewa (Karena kau kembali percaya padaku)
Hari ini aku bahagia (kau kembali)
Hari ini aku bahagia (jatuh cinta lagi)
Wangi bunga hangat mentari
Semua jelas kurasakan asik sekali
Rasa benci sakit hati
Terbang menghilang jauh pergi
Aku bahagia (Denganmu lagi ku jatuh cinta)
Hari istimewa (Karena kau kembali percaya padaku)
Hari ini aku bahagia (kau kembali)
Hari ini aku bahagia (jatuh cinta lagi)
Jika aku tahu dari dulu saja
Aku tak mau khianati kamu
Jika aku tahu begini rasanya
Aku mau bahagia sampai mati
Hari ini aku bahagia (kau kembali)
Hari ini aku bahagia (jatuh cinta lagi)
Ku mabuk cinta, ku mabuk cinta
Lagi lagi mabuk, lagi lagi cinta
Bolak balik jatuh, bolak balik cinta
Ku mabuk cinta, ku mabuk cinta

KaSaCiMa

Yang aku mau kau tunggu
Janganlah terburu nafsu
Pasti kudatangi kamu
Tak mungkin kau ku kibuli
Kasihku kasih terkasih
Sayangku sayang tersayang
Cintaku cinta tercinta
Manisku manis termanis
Rinduku setengah mati
Kalbuku menggebu-gebu
Mari sini dekat padaku
Kucium kau berulang kali
Hidup ini indah
Berdua semua mudah
Yakinlah melangkah
Jangan lagi gelisah
Kalau kau tak mau menunggu
Aku tak pandai merayu
Percayalah kau padaku
Percaya ya… percayalah
Suka dan duka biasa
Cemburu jangan membuta
Senyumlah engkau kekasih
Problema jadi tak perih

Rubah

Jaman berubah perilaku tak berubah
Orang berubah tingkah laku tak berubah
Wajah berubah kok menjadi lebih susah
Manusia berubah, berubah rubah
Kasih yang dicari yang ada komedi
Revolusi dinanti yang datang Ashari
Lembaga berdiri berselimut korupsi
Wibawa menjadi alat melindungi diri
Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian
Agama sebagai topeng yang menjijikkan
Kemiskinan merajalela yang kaya makin rakus saja
Hukum dan kesehatan diperjual belikan
Kesaksian tergusur oleh kepentingan ngaur
Pemerintah keasyikan berpolitik (ngaur)
Partai politik sibuk menuhankan uang (ngaur)
Ada rakyat yang lapar makan daun dan arang
Televisi sibuk mencari iklan
Sementara banyak yang tnggu giliran
Rakyat dan sang jelata menatap dengan mata kosong
Dimana aku
Apa ditelan tsunami?

Panggilan Dari Gunung

Panggilan dari gunung
Turun ke lembah-lembah
Kenapa nadamu murung
Langkah kaki gelisah
Matamu separuh katup
Lihat kolam seperti danau
Kau bawa persoalan
Cerita duka melulu
Di sini… menunggu
Cerita… yang lain
Di sini… menunggu
Cerita… yang lain menunggu
Berapa lama diam
Cermin katakan bangkit
Pohon-pohon terkurung
Kura-kura terbius

Cikal

Kerbau di kepalaku ada yang suci
Kerbau di kepalamu senang bekerja
Kerbau di sini teman petani
Ular di negara maju menjadi sampah nuklir
Ular di dalam buku menjadi hiasan tatoo
Ular di sini memakan tikus
Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Kerbauku teman petani
Ularku memakan tikus
Kerbauku besar, kerbauku seram
Tetapi ia bukan pemalas
Hidupnya sederhana, hmm… hmm…
Sancaku besar, sancaku seram
Mengganti kulit luar sarang, makan dan bertapa
Hidupnya sederhana
Ularku ular sanca
Kerbauku kerbau petani
Ularku memakan tikus
Kerbauku teman petani
Walau kerbauku bukan harimau
Tetapi ia bisa seperti harimau
Kerbauku tetap kerbau
Kerbau petani yang senang bekerja
Sancaku melilitnya
Kerbauku tidak terganggu
Karena sancaku dan kerbau temannya petani
Lalu dimana anak-anak sang tikus
Bayi, bayi, bayi, murni dan kosong
Bayi, bayi, bayi, bayi ya bayi
Kalau kita sedang tidur dan tiba-tiba saja kita terbangun
Karena lubang hidung kita terkena kumis harimau
Mungkin kita akan lari, ya lari, tetapi bayiku tidak
Bukan karena bayiku belum bisa berlari
Aku percaya, aku percaya
Bayiku tidak akan pernah berpikir bahwa harimau itu jahat
Bayiku menarik-narik kumis dan memukul-mukul mulut harimau
Harimau malah memberikan bayiku mainan
Bayiku menjadi bayi harimau
Bayi harimau anak petani
Seperti sanca melilit kerbau
Ia ada di gorong-gorong kota
Lantas apa agamanya?
REF 1:
Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku murni dan kosong
Ia ada di gorong-gorong kota
REF 2:
Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku bayi harimau
Ia ada di gorong-gorong kota
Bayi, bayi, bayi, murni dan kosong
Bayi, bayi, bayi, bayi harimau
Bayi, bayi, bayi, yang berkalung sanca
Bayi, bayi, bayi, yang disusui kerbau

Kupaksa Untuk Melangkah

Kulangkahkan kakiku yang rapuh
Tinggalkan sepi kota asalku
Saat pagi buta
Sandang gitar usang
Ku coba menantang
Keras kehidupan
Datangi rumah rumah tak jemu
Petik tali tali senar gitarku
Dari tenda ke tenda
Warung yang terbuka
Lantang nyanyikan lagu
Oh memang kerjaku
Tak pasti jalur jalan hidup
Ku tunggu putaran roda nasib
Ku coba paksakan untuk melangkah
Sementara
Kerikil kerikil tajam menghadang
Langkahku

Berputar Putar

Berputar dan berputar
Tak berawal
Tak berakhir
Berputar lagi berputar
Tak berawal
Tak berakhir
Berputar terus berputar
Tak berawal
Tak berakhir

Damai Kami Sepanjang Hari

Hangat mentari pagi ini
Antar ku pulang dari bermimpi
Ramah tersenyum matahari
Inginkan aku tuk bernyanyi
Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami
Perlahan kau bangunkan aku
Antarkan segelas kopi ( kopi susu )
Dengar canda adik adikmu
Inginkan aku segera bersatu
Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami
Semoga akan tetap abadi
Pagi ini
Pagi esok
Esok hari
Hari nanti
Semoga tak kan pernah berhenti
Canda hari ( pagi )
Canda pagi ( hari )
Damai kami sepanjang hari

Proyek 13

Meskipun kurang paham tentang radiasi
Meskipun kurang paham tentang uranium
Meskipun kurang paham tentang plutonium
Ku tahu radioaktif panjang usia
Aku tak tahu sampahnya ada dimana
Aku tak tahu pula cara menyimpannya
Aku tak yakin tentang pengamanannya
Karena kebocoran pun ada disana
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Aku menolak akal yang tanpa hati
Aku menolak teknologi tanpa kendali
Aku tak mau mengijonkan masa depan
Demi listrik sedikit banyak keruwetan
Sama sekali ku tak anti teknologi
Tapi aku lebih percaya pada hati
Aku tahu listrik penting buat industri
Tapi industri jangan ancam masa depan
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Daripada susah payah beli reaktor
Daripada pusing karena sampah nuklir
Daripada malu kepada anak cucu
Aku bergerak menyanyikan kehidupan
Informasi tentang ini harus diberikan
Bahaya dunia maju harus disingkirkan
Rasa gengsi tak perlu diteruskan
Pembangunan PLTN harap hentikan
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Apa yang akan terjadi nanti
Untuk listrik banyak memerlukan sumber energi
Pilihanmu pun tentu jadi dicurigai
Sebab di negeri maju reaktor ditutupi
Bukan alasan agar republik ini beli
Aku lebih suka tenaga matahari
Aku lebih suka tenaga panas bumi
Aku lebih suka dengan tenaga angin
Aku lebih suka tenaga arus laut

2 Menit 10 Detik

Yang menangis di ketiakku
Engkaukah itu perempuanku?
Diamlah diamlah
Berhentilah berhentilah
Sebentar
Yang tertawa di nganga luka
Engkaukah itu betinaku?
Puaskah hatimu?
Teruslah tertawa
Hingar

Ambisi

Langkahmu pelan tertatih
Dengan denyut nadi nyaris terhenti
Namun jangan padam ambisi
Rambutmu kusut tak rapi
Melekat di tubuh sejuta daki
Namun jangan padam ambisi
Namun jangan padam ambisi
Tak berkaki
Coba untuk berlari
Tak berjari
Cengkeram berulang kali
Keinginan dihati
Sinar terang lampu merkuri
Pasti akan engkau dapati
Tentu berbekal ambisi
Tentu berbekal ambisi
Tak bermata
Pandang dunia dengan jiwa
Tak bertelinga
Jangan cepat kecewa
Tak berkaki
Coba untuk berlari
Tak berjari
Cengkeram berulang kali
Keinginan dihati

Guru Zirah

Dia cantiknya guru muda kelasku
Zirah namamu asli cangkokan Jawa
Busana biasa saja
Ramping kau punya pinggang
Tahi lalatmu genit nangkring di jidat
Goda batinku kilikitik imanku
Pantatmu aduhai
Bagai salak raksasa
Merah bibirmu bukan polesan pabrik
Mulus kulitmu tak perlu lagi ke salon
Betismu bukan main
Indah bak padi bunting
Tidur pun aku tak nyenyak
Sebelum aku sebutkan
Namamu
Guru Zirah bodi montok
Rasanya ingin punya bank
Tuk traktir engkau seorang
Impianku
Guru Zirah bodi montok
Baru melihat kaki ibu melangkah
Hati didalam dag dig dug mirip beduk
Apalagi he he he
Tak kan kuat ku berdiri
Zirah guruku ibu manis bak permen
Berilah les privat agar otakku paten
Hadiahku tas plastik
Boleh pesan di butik
Tidur pun aku tak nyenyak
Sebelum aku sebutkan
Namamu
Guru Zirah bodi montok
Rasanya ingin punya bank
Tuk traktir engkau seorang
Impianku
Guru Zirah VeWe Kodok
Kalau setuju kita bolos sehari
Bohong sedikit mungkin Tuhan tak marah
Asmara tak bedakan
Aku murid kau guru
Kebun binatang lokasi yang ideal
Murah meriah ongkos buat pacaran
Ku tahu gaji ibu
Hanya cukup untuk beli tahu
Tidur pun aku tak nyenyak
Sebelum aku sebutkan
Namamu
Guru Zirah bodi montok
Rasanya ingin punya bank
Tuk traktir engkau seorang
Impianku
Guru Zirah VeWe Kodok

Tante Lisa

Dirumah megah ada seorang nyonya
Ramping bodinya
Lagaknya centil dan tak mau kalah
Dengan gadis remaja
Melirik matanya
Bila melihat pemuda
Yang gagak perkasa
Apalagi dia orang kaya
Hei tante Lisa
Wajahmu kini semakin mempesona
Hei tante Lisa
Setahun sudah kau jadi janda
Perceraian terjadi
Gara gara sang suami
Tak tahan melihat
Tante Lisa bercumbu dengan tetangga
Hei tante Lisa
Wajahmu kini semakin mempesona
Hei tante Lisa
Setahun sudah kau jadi janda
Hei tante Lisa
Banyak tuan tuan berkencan bersamamu
Hei tante Lisa
Lihat usiamu yang semakin tua

Emak

Tanpa engkau Sedikitpun tiada artinya aku
Bagiku kau api Yang berikan hangat begitu kuat
Pada beku nadi
Tiada dua
Engkau hadirkan cinta tak berahir
Tak kan pernah mampu
Kulukis putihmu lewat lagu
Maafkanlah aku
Bagai bening mata air
Memancar tak henti
Mungkin masihlah teramat kurang
Bagai sinar matahari Yang tak kenal bosan
Berikan terangnya pada kita Kaulah segalanya
Hanya ini Yang sanggup kutulis untukmu bunda
Jangan tertawakan
Simpan dalam hatimu yang sejuk
Rimbun akan doa
Kau berikan semuanya
Yang bisa kau beri
Tanpa setitikpun harap balas
Kau kisahkan segalanya
Tanpa ada duka
Walaupun air matamu tumpah
Tenggelamkan dunia
Bagai sinar matahari
Yang tak kenal bosan
Berikan terangnya pada jiwa
Kau berikan semuanya Yang bisa kau beri
Tanpa setitikpun harap balas Agungnya engkau
Bagai luas laut biru
Batinmu untukku
Selalu ada tempat tuk resahku
Bagai bening mata air Memancar tak henti
Sirami jiwaku waktu kecewa
Datang menggoda

Krisis Pemuda

Bermacam macam tuduhan
Yang menimpa pemuda
Bermacam macam sindiran
Menyelimuti hidup pemuda
Tak ada yang mau mengerti
Akan segala kemampuannya
Dan tak ada yang mau peduli
Mengapa sampai jadi korban
Kelinci kelinci percobaan
Semua sibuk dengan kekayaan
Semua sibuk dengan alasan
Seakan melepas kasih sayangnya
Dimana kusumbangkan tenaga
Demi laju bangun negara
Tapi tak sempat ku berbicara
Lowongan kerja tak kudapatkan
Sistim koneksi
Sistim famili
Merajalela di setiap instansi
Sistim koneksi
Sistim famili
Merajalela di setiap instansi
Oh oh oh oh
Krisis pemuda
Melanda negeri tercinta (Indonesia)
Oh oh oh oh
Krisis pemuda
Melanda negeri tercinta (Indonesia)

Kota

Kota adalah rimba belantara buas dari yang terbuas
Setiap jengkal lorong terpecik darah
Darah dari iri darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu yang tak pasti
Kota adalah rimba belantara liar dari yang terliar
Setiap detik taring taring tajam menancap
Setiap menit lidah lidah liar
Rakus menjulur lapar
Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam
Bernapas diantara sikut
Licik dan garang
Bergerak diantara ganasnya
Selaksa gerah
Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar
Menjurai didepan mata
Siap menjerat leher kita
Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam

Lagu Pemanjat

Antara hidup dan mati
Tak kan pernah aku kembali
Niatku sudah terpatri
Antara hidup dan mati
Darah keringat di batu
Terikat tali kehidupan
Rasa takut dan ragu-ragu
Mengundang dewa kematian
Berada di ketinggian
Menjawab segala tekanan
Angin kencang sebagai godaan
Kita harus mampu bertahan
Lagu pemanjat
Bukan lagu orang sekarat
Lagu pemanjat
Lagu orang yang kuat
Lagu pemanjat
Bukan hanya sekedar kuat
Lagu pemanjat
Lagu jiwa yang liat
Dinding dingin tebing terjal
Terus melambai lambaikan tangannya
Memanggil aku untuk tetap memanjati
Kehidupan yang penuh dengan misteri
Sang jari menari
Jangan berhenti
Kupasrahkan diriku
DigenggamanMu
Sang nyali bernyanyi
Di ujung kaki
Kuikhlaskan hidupku
Ya kuikhlaskan

Diet

Susahnya menghadapi godaan
Mencium harum lezat makanan
Rasanya lidah ingin cicipi
Melihat balado kacang dan teri
Kau lupakan semua aturan
Ahli gizi yang tampan
Resiko soal belakang
Asalkan sang perut kenyang
Delapan puluh dua kilogram
Mengundang mata untuk memandang
Menyesal benci pada sang perut
Sedangkan lapar terus menuntut
Jikalau engkau sadar
Nafsu makan dilawan
Bangun tidur pagi buta
Lincahnya senam irama
Seminggu engkau jalani
Nasehat sang ahli gizi
Namun tak lama berselang
Godaan goyahkan iman
Majalah yang sedang engkau baca
Tawarkan resep gulai buaya
Nikmatnya engkau lama berhayal
Tak tahan kau makan tanpa sesal

Berapa

Berapa jauh seorang lelaki
Tempuh jarak lalu jalan mendaki
Berapa cepat seorang lelaki
Tanpa keluh sigap dia berlari
Berapa dalam seorang lelaki
Selami lautan demi tepati janji
Berapa keras seorang lelaki
Pecahkan cadas di atas kaki sendiri

Nenekku Okem
Nenekku manis umur setengah abad
Masih lincah bagai bola bekel
Rambutnya panjang hitam ikal dipikok
Di salon lisa asal Rangkasdengklok
Paling tak suka pakai kain kebaya
Atau rambut digulung konde
Sebab katanya tak bebas dia bergerak
Gerah sebuah alasan
Nenekku orang hebat
Sanggup koprol bagaikan atlet
Napasnya panjang bak napas kuda
Lari Jakarta – Bandung setiap pagi pulang pergi
Main bola sehari tiga kali
Tari kejang menambah energi
Kalau kubilangin jangan terlalu agresif
Namun malah ngeledek kuno
Nenekku makin hot menari sambil salto
Hampir hampir setiap menit
Di rumah atau di jalan
Di pasar atau di trotoar
Hi hi hi hi hi hi hi hi
Habis ambil pensiun mampir ke toko kaset
Cari lagu baru yang ‘up to date’
Kuping pakai headphone badan tak bisa diam
Ikuti tempo ‘break dance’ tersayang
Persetan orang lihat masa bodo nyengir
Konsentrasi dia tak goyah
Setelah selesai dengar lagu sekaset
Lalu dia menuju kasir
Bayar satu bawa tiga
Yang dua mampir di jaket
Yang dua mampir di jaket
Nenekku okem Nenekku okem
Nenekku okem Nenekku okem

Dimana

Sempat aku goyah
Sekejap terjatuh
Didalam arungi perjalanan
Pada kelam hari
Akupun bersujud
Nikmati semuanya tanpa tanya
Kucoba selami
Dalamnya samudera
Ikuti gelombang terjang karang
Tetap tak kudapat
Apa yang ku mau
Hanya bimbang yang singgah dera jiwa
Cakar hati
Penat semakin selimuti
Dimana senyummu ?
Yang sanggup memberi rasa damai
Dimana belaimu ?
Yang hangatkan nadiku yang beku
Hampir ku tak kuat
Hampir ku tak mampu
Lewati jalan keringb erdebu
Dahaga meronta
Letihku menggila
Namun jarak masihlah
Teramat jauh
Batinku terapung
Bosan ku melangkah
Engkau tetap saja tak bergeming
Otakku berderak
Lontarkan kecewa
Tak mau percaya yang kau janjikan
Pada waktu
Detak jantung semakin melemah
Dimana senyummu ?
Yang sanggup memberi rasa damai
Dimana belaimu ?
Yang hangatkan nadiku yang beku
Setetes air
Yang kau beri
Kan berarti bagiku
Seulas senyum
Di sisa hari
Kan berarti bagiku

Willy

Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu ?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas
Si kuda binal dari Jogjakarta
Sehatkah dirimu ?
Kurindu ringkikmu
Yang genit memaki onar
Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?
Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu ?
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam
Dimana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?
Masih sukakah kau mendengar ?
Dengus nafas saudara kita yang terkapar
Masih sukakah kau melihat ?
Butir keringat kaum (orang) kecil yang terjerat
Oleh slogan slogan manis sang hati laknat
Oleh janji janji muluk tanpa bukti
Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?
Dimana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Satu Satu

Satu-satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda …
Satu-satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda …
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun-daun berguguran
Tunas-tunas muda bersemi
Satu-satu daun jatuh ke bumi
Satu-satu tunas muda bersemi
Tak guna tertawa
Redalah reda …
Waktu terus bergulir
Kita kan pergi dan tinggal pergi
Ke dalam tangis ke dalam tawa
Tunas-tunas muda bersemi

Terminal

Hangatnya matahari
Membakar tapak kaki
Siang itu di sebuah terminal yang rapi
Wajah pejalan kaki
Kusut mengutuk matahari
Jari-jari kekar kondektur genit
Kau dadahi
Dari sebuah warung wc umum
Irama melayu terdengar akrab mengalun
Diiringi deru mesin-mesin
Diiringi tangis yang kemarin
Bocah kurus tak berbaju yang tak kenal bapaknya
Tajam matamu liar mencari mangsa
Ramai para pedagang datang tawarkan dagangan
Ratap pengemis tak meriang dalam kelam
Diiringi deru mesin-mesin
Diiringi tangis yang kemarin
Kudatangi kamu lewat lagu
Kudatangi kamu lagu masih baru
Nyanyian duka nyanyian suka
Tarian suka tarian duka
Apakah ada bedanya

Obat Awet Muda

Tante tante yang kesepian
Bertingkah seperti perawan
Berlomba lomba mencari pasangan
Persis oplet tua yang cari omprengan
Di ujung jalan
Saling berebut cari muatan
Slop dasi gaun model Paris
Eye shadow parfum impor
Duduk dibelakang stir mobil Mercedes
Pasangannya seorang pemuda
Yang jimatnya melebihi dosis
Sebesar burung belibis
Hey aku mendesis
Tuan yang merasa hidung belang
Keranjingan main perempuan
Tak peduli itu istri orang
Yang penting bisa ngasah pedang
Warisan dari nenek moyang
Pedang tajam wanita ditendang
Jangan nyonya ingat dong suami
Jangan tuan ingat anak istri
Jawab mereka apa ?
Justru itu harus kami lakukan
Mengapa harus dilakukan ?
Ndak tau ?
Karena itu karena itu
Obat awet muda

Si Tua Sais Pedati

Bergerak perlahan dengan pasti
Di jalan datar yang berlumpur
Sesekali terdengar geletar cemeti
Diiringi teriakan lantang
Si tua sais pedati
Gerak pedati sebentar berhenti
Tampak si tua sais pedati
Mulai membuka bungkusan nasi
Yang dibekali
Sang istri
Gerak pedati lalu jalan lagi
Singgah disetiap desa
Tanpa ragu ragu tanpa malu malu
Napas segar terhembus dari sepasang lembu
Yang tak pernah merasakan sesak polusi
Dia tak pernah memerlukan
Dia tak pernah membutuhkan
Solar dan ganti oli bensin dan ganti busi
Apalagi charge aki
Dia tak pernah kebingungan
Dia tak pernah ketakutan
Akan kata orang tentang gawatnya
Krisis energi
Gerak pedati dan lenguh lembu
Seember rumput dan geletar cemeti
Seakan suara adzan yang dikasetkan
Sementara itu sang bilal (gawat)
Pulas mendengkur

Celoteh Camar Tolol Dan Cemar

Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan
Keras melebihi gemuruh gelombang
Yang datang
Sejuta lumba lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar
Tampomas terbakar
Risau camar memberi salam
Tampomas Dua tenggelam
Asap kematian Dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan
Hatiku rasa Bukan takdir tuhan
Karena aku yakin itu tak mungkin
Korbankan ratusan jiwa Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa Demi peringatan manusia
Korbankan ratusan jiwa Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa Demi peringatan manusia
Bukan bukan itu Aku rasa kita pun tahu
Petaka terjadi Karena salah kita sendiri
Datangnya pertolongan Yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan Lamban engkau pahlawan
Celoteh sang camar
Bermacam alasan Tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat Jilat api dan jerit penumpang kapal
Tampomas sebuah kapal bekas Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang naas

Asmara Dan Pancaroba

Awan hitam semakin legam
Hujan panas silih berganti
Gelombang panas menyengat bumi
Insan merintih tak berhenti
Rintih tangis di malam hari
Jerit pilu menyayat kalbu
Wajah sendu menanti pagi
Hujan badai berhenti
Kicau burung ramai bernyanyi
Tanda musim berganti
Kasihku kan datang berlari
Menjemput hatiku yang sepi
Kini ku bersama kembali
Seperti dahulu berseri
Asmaraku yang telah pergi
Kini bersemi lagi

Tak Biru Lagi Lautku

Hamparan pasir
Tampak putih berbuih
Kala sisa ombak merayap
Hamparan pasir
Terasa panas menyengat
Di telapak kaki yang berkeringat
Camar camar hitam
Terbang rendah melayang
Di sekitar perahu nelayan
Daun kelapa
Elok saat melambai
Mengikuti arah angin
Tampak ombak
Kejar mengejar menuju karang
Menampar tubuh pencari ikan
Semilir angin berhembus
Bawa dendang unggas laut
Seperti restui jala nelayan
Gurau mereka
Oh memang akrab dengan alam
Kudengar dari kejauhan
Dan batu batu karang
Tertawa ramah bersahabat
Memaksa aku tuk bernyanyi
Tampak ombak
Kejar mengejar menuju karang
Menampar tubuh pencari ikan
Semilir angin berhembus
Bawa dendang unggas laut
Seperti restui jala nelayan
Itu dahulu
Berapa tahun yang lalu
Cerita orang tuaku
Sangat berbeda
Dengan apa yang ada
Tak biru lagi lautku Tak riuh lagi camarku
Tak rapat lagi jalamu Tak kokoh lagi karangku
Tak buas lagi ombakmu Tak elok lagi daun kelapaku
Tak senyum lagi nelayanku Tak senyum lagi nelayanku

Tarmijah Dan Problemnya

Cerita duka pembantu rumah tangga
Harga Tarmijah sebulan delapan ribu rupiah
Di pagi buta sedang pulas tidur kita
Neng Tarmijah sudah bangun lalu bekerja
Siapkan sarapan
Bersihkan halaman
Siapkan pakaian
Seragam sekolah untuk anak majikan
Setelah beres Tarmijah dipanggil nyonya
Pergi ke pasar belanja ini hari
Asin sedikit Tarmijah di caci maki
Masakan lezat tak pernah di puji
Oh sudah pasti keki
Namun hanya disimpan dalam hati
Di malam minggu anak majikan berdandan
Sambut sang pacar itu suatu kewajiban
Nona Tarmijah tak mau ketinggalan
Lalu berdandan siap untuk berkencan
Nyonya majikan lihat Tarmijah berkencan
Di muka rumah terhalang pagar halaman
Nyonya naik pitam
Tarmijah kena hantam
Nyonya naik pitam
Tarmijah kena hantam
Tarmijah K.O.
Tarmijah K.O.

Barang Antik

Berjalan tersendat
Diantara sedan sedan licin mengkilat
Dengan warna pucat
Dan badan penuh cacat sedikit berkarat
Hei oplet tua dengan bapak sopir tua
Cari penumpang dipinggiran ibukota
Sainganmu mikrolet, bajai dan bis kota
Kini kau tersingkirkan oleh mereka
Bagai kutu jalanan
Di tengah tengah kota metropolitan
Cari muatan
Untuk nguber setoran sisanya buat makan
Hei oplet tua dengan bapak sopir tua
Cari penumpang dipinggiran ibukota
Sainganmu mikrolet, bajai dan bis kota
Kini kau tersingkirkan oleh mereka
Berjalan zig zag ngebut
Nggak peduli walau mobil sudah butut
Suara bising ribut
Yang keluar dari knalpotmu bagai kentut
Hei oplet tua dengan bapak sopir tua
Cari penumpang dipinggiran ibukota
Sainganmu mikrolet, bajai dan bis kota
Kini kau tersingkirkan oleh mereka
Oh bapak tua
Pemilik oplet tua
Tunggu nanti di tahun dua ribu satu
Mungkin mobilmu
Jadi barang antik
Yang harganya selangit
Oh bapak tua
Pemilik oplet tua
Tunggu nanti di tahun dua ribu satu
Mungkin opletmu
Jadi barang nyentrik
Yang harganya selangit

Kereta Tua

Hitam warnamu seperti malam
Kekar roda roda melingkar
Kau kereta lama parkir di stasiun tua
Dulu kakekku pernah cerita
Dia banyak berikan jasa
Saat gejolak perang melanda negeri kita
Kau kereta tua penuh sembunyikan misteri
Waktu pun berlalu orde pun berganti
Oh kereta tua kau nampak semakin asing
Kini dia tak lagi berlaga
Namun masih bisa tertawa
Semoga tidurmu nanti mimpikan masa lalu
Semoga tidurmu nanti mimpikan masa lalu

Berkacalah Jakarta

Langkahmu cepat seperti terburu
Berlomba dengan waktu
Apa yang kau cari belumkah kau dapati
Diangkuh gedung gedung tinggi
Riuh pesta pora sahabat sejati
Yang hampir selalu saja ada
Isyaratkan enyahlah pribadi
Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota
Ramaikan mimpi indah penghuni
Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki
Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta
Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota
Ramaikan mimpi indah penghuni
Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki
Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Pinggiran Kota Besar

Pinggiran kota besar Nafasmu makin bingar
Kudengar dari sini Bagai nyanyiannya oh
Cerobong asap pabrik Berlomba ludahi langit
Barisan mobil besar Gelisah angkut barang
Ada kabar engkau tuli
Pinggiran kota besar Kulihat tidur mendengkur
Diranjang banyak orang Peduli kau bermimpi
Selagi cukup nyenyak Asiknya buang kotoran
Lukai hari kami Cemari hati ini
Ada kabar engkau buta
Sungai kotor bau dan beracun Penuh limbah kimia
Kita mandi mencuci disana Lihatlah lihatlah
Ikan ikan pergi atau mati Tak kulihat yang pasti
Kau yang tidur bangunlah segera Lihatlah lihatlah
Telanjang anak kecil Berenang disungai kotor
Tertawa riang bercanda Sambil menggaruk koreng
Pinggiran kota besar Merasa tidur terganggu
Beranjak dari ranjang Tutup pintu jendela
Nutup pintu jendela
Sungai kotor bau dan beracun Penuh limbah kimia
Kita mandi mencuci disana Lihatlah lihatlah
Ikan ikan pergi atau mati Tak kulihat yang pasti
Kau yang tidur bangunlah segera
Lihatlah lihatlah
Hitam kaliku Hitam legam hatiku
Legam hariku Legam hitam kaliku

Maaf Cintaku

Ingin kuludahi mukamu yang cantik
Agar kau mengerti bahwa kau memang cantik
Ingin kucongkel keluar indah matamu
Agar engkau tahu memang indah matamu
Harus kuakui bahwa aku pengecut
Untuk menciummu juga merabamu
Namun aku tak takut untuk ucapkan
Segudang kata cinta padamu
Mengertilah Perempuanku
Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh
Bila dayung tak terkayuh
Maaf cintaku Aku menggurui kamu
Mengertilah Perempuanku
Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh
Bila dayung tak terkayuh
Maaf cintaku Aku nasehati kamu
Maaf cintaku Aku menggurui kamu
Maaf cintaku Aku nasehati kamu
Maaf cintaku Aku menggurui kamu

Pak Tua

Kamu yang sudah tua apa kabarmu?
Katanya baru sembuh katanya sakit
Jantung ginjal dan encok sedikit saraf
Hati hati pak tua istirahatlah
Diluar banyak angin
Kamu yang murah senyum memegang perut
Badanmu semakin tambun memandang langit
Hari menjelang maghrib pak tua ngantuk
Istri manis menunggu istirahatlah
Diluar banyak angin
Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh ya
Pak tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja oh ya
Pak tua oh oh oh
Tidur pak?

Jendela Kelas

Duduk dipojok bangku deretan belakang
Didalam kelas penuh dengan obrolan
Selalu mengacau laju khayalan
Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Dari sana pula aku mulai mengenal
Seraut wajah berisi lamunan
Bibir merekah dan merah selalu basah
Langkahmu tenang kala engkau berjalan
Tinggi semampai gadis idaman
Kau datang membawa
Sebuah cerita
Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Tembus pandang ke kantin bertalu rindu
Datang mengetuk pintu hatiku
Kau datang membawa
Sebuah cerita
Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Puing 2

Perang perang lagi Semakin menjadi
Berita ini hari Berita jerit pengungsi
Lidah anjing kerempeng Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang Serdadu boneka yang malang
Tuan tolonglah tuan Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah Air mata bercampur darah
Bosankah telinga tuan Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan Mencium amis jantung korban
Jejak kaki para pengungsi Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi Bercerita pada penguasa
(Bercerita pada penguasa)
Tentang ternaknya yang mati Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati Tentang pacarnya yang mati
(Tentang ibunya yang mati) Tentang istrinya yang mati
Tentang harapannya yang mati
Perang perang lagi Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara Berlomba dekap senjata
Dengan nafsu yang makin menggila Nuklir pun tercipta
Tampaknya sang jenderal bangga Dimimbar dia berkata
Untuk perdamaian
Demi perdamaian
Guna perdamaian
Dalih perdamaian
Mana mungkin Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan Semua hanya bohong besar

Azan Subuh Masih Di Telinga

Ketika fajar menjelang
Terlihat dia melangkah enggan
Seirama dengan dendang subuh
Yang singgah di hati keruh
Sempit jalan berdesak bangunan
Memandang sinis mendakwa bengis
Perempuan satu dan hitamnya waktu
Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu
Hari pagi menyambut kau kembali
Mengusap nadi mengelus hati
Sesal di hatimu kian mengganggu
Kau reguk habis semua doa doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga
Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Didepan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu
Terdengar pelan ketuk pintu
Tegur anakmu buyarkan lamunan
Perempuan satu kian terbelenggu
Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Serdadu

Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira bintara atau tamtama
Tetap tentara
Kata berita gagah perkasa
Apalagi sedang kokang senjata
Persetan siapa saja musuhnya
Perintah datang karang pun dihantam
Serdadu seperti peluru
Tekan picu melesat tak ragu
Serdadu seperti belati
Tak dirawat tumpul dan berkarat
Umpan bergizi titah bapak menteri
Apakah sudah terbukti ?
Bila saja masih ada buruknya kabar burung
Tentang jatah prajurit yang di kentit
Serdadu seperti peluru
Tekan picu melesat tak ragu
Serdadu seperti belati
Tak dirawat tumpul dan berkarat
Lantang suaramu otot kawat tulang besi
Susu telur kacang hijau ekstra gizi
Runtuh dan tegaknya keadilan negeri ini
Serdadu harus tahu pasti
Serdadu baktimu kami tunggu
Tolong kantongkan tampang serammu
Serdadu rabalah dada kami
Gunakan hati jangan pakai belati
Serdadu jangan mau di suap
Tanah ini jelas meratap
Serdadu hoi jangan lemah syahwat
Nyonya pertiwi tak sudi melihat

Nyanyian Jiwa

Nyanyian jiwa
Bersayap menembus awan jingga
Mega mega
Terburai diterjang halilintar
Mata hati
Bagai pisau merobek sangsi
Hari ini
Kutelan semua masa lalu
Biru biru biru biruku
Hitam hitam hitam hitamku
Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri oh
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah
Menjeritlah
Menjeritlah selagi bisa
Menangislah
Jika itu dianggap penyelesaian
Biru biru biru biruku
Hitam hitam hitam hitamku
Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri ohoh
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah

Yakinlah

Nyanyikanlah lagu indah
Hanyalah untukku
Saat temaram datang ketuk hati
Tolong kau dendangkan
Usaplah nurani
Agar tak kelam
Sekali lagi kuminta
Coba kau nyanyikan
Semoga dapat kurasa ikhlasmu
Pasti kan kudengar
Pasti kuresapi
Kasih yakinlah
Bukan ku tak mau mengalunkan laguku
Kutakut menyakiti telingamu
Bukan aku enggan memainkan gitarku
Sebab cinta bukan hanya nada
Kalau kita saling percaya
Tak perlu nada tak perlu irama
Berjalanlah hanya dengan diam
Sekali lagi kuminta
Coba kau nyanyikan
Semoga dapat kurasa ikhlasmu
Pasti kan kudengar
Pasti kuresapi
Kasih yakinlah
Bukan ku tak mau mengalunkan laguku
Kutakut menyakiti telingamu
Bukan aku enggan memainkan gitarku
Sebab cinta bukan hanya nada
Kalau kita saling percaya
Tak perlu nada tak perlu irama
Berjalanlah hanya dengan diam
Melangkahlah hanya dengan diam


Cik

Cepat kemari calon istriku
Ajarkan aku setiap pagi cium mesra bibirmu
Larilah dekap tubuhku erat
Otakku buntu aku tak tahu hadapi soal serupa itu
Nona cantik calon istriku tolonglah aku
Pikat hatiku dengan tingkahmu
Sebelum kita siap arungi
Lautan luas penuh tantangan
Tampak perahu kecil kita menunggu di dermaga
Riak gelombang suatu rintangan
Ingat itu pasti kan datang
Karang tajam sepintas seram
Usah gentar bersatu terjang
Ulurkan tanganmu
Pasti kugenggam jarimu
Kecup mesra hatiku
Rintangan kuyakin pasti berlalu
Ulurkan tanganmu
Pasti kugenggam jarimu
Kecup mesra hatiku
Rintangan kuyakin pasti berlalu
Riak gelombang suatu rintangan
Ingat itu pasti kan datang
Karang tajam sepintas seram
Usah gentar bersatu terjang
Cepat kemari calon istriku
Ajarkan aku setiap pagi
Kucium mesra jidatmu
Larilah dekap tubuhku erat
Otakku buntu aku tak tahu
Hadapi soal serupa itu
Nona cantik calon istriku tolonglah aku
Pikat hatiku dengan tingkahmu
Sebelum kita siap arungi
Lautan luas penuh tantangan
Tampak perahu kecil kita menunggu di dermaga

Kembang Pete

Kuberikan padamu setangkai kembang pete
Tanda cinta abadi namun kere
Buang jauh jauh impian mulukmu
Sebab kita tak boleh bikin uang palsu
Kalau diantara kita jatuh sakit lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter di sini terkait di awan tinggi
Cinta kita cinta jalanan yang tegar mabuk di persimpangan
Cinta kita cinta jalanan yang sombong menghadap keadaan
Semoga hidup kita bahagia Semoga hidup kita sejahtera
Semoga hidup kita bahagia Semoga hidup kita sejahtera
Kuberikan untukmu Sebuah batu akik
Tanda sayang batin Yang tercekik
Rawat baik baik Walau kita terjepit
Dari kesempatan Yang semakin sempit
Cinta kita cinta jalanan Yang tegar mabuk di persimpangan
Cinta kita cinta jalanan Yang sombong menghadap keadaan
Semoga hidup kita bahagia Semoga hidup kita sejahtera
Semoga hidup kita bahagia Semoga hidup kita sejahtera

Yang Tersendiri

Terhempas ku terjaga
Dari lingkar mimpi
Pada titik sepi
Suaramu terngiang
Menembus khayalku
Yang juga tentangmu
Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau
Bayangmu menghantui
Setiap gerakku
Dan kemauanku
Dahagaku akanmu
Matikan emosi
Juga ambisiku
Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau

Tolong Dengar Tuhan

Oh Tuhan Apakah kau dengar?
Jerit umatmu Diselah tebalnya debu
Oh Tuhan Adakah kau murung?
Melihat beribu wajah berkabung
Disisa gelegar Galunggung
Oh Tuhan Tamatkan saja
Cerita pembantaian orang desa
Yang jelas hidup tak manja
Oh Tuhan Katanya engkau maha bijaksana
Tolong Galunggung pindahkan ke kota
Dimana tempat segala macam dosa
Berat beban kau datangkan
Pada mereka disana
Cela apa nista apa
Hingga engkau begitu murka
Sungguh ku tak mengerti
Hingar tangis karena adabmu
Setiap detik duka berpadu
Semakin keras jerit tak puas
Dari mereka yang resah bertanya
Adilkah keputusanmu?
Acap kali rintih memaki
Setiap duka tuding Ilahi
Jangan salahkan kecewa kami
Bosan dalam irama takdirmu
Walau ku tak terganggu
Bukankah kau maha tahu
Pengasih penyayang
Namun mengapa selalu saja
Itu hanya cerita
Oh Tuhan Tolong hentikan
Oh Tuhan Dengar rintihan
Amuk lahar yang datang hanguskan bumi
Tinggalkan arang penghuni desa pergi
Gemuruh batu hancurkan saudaraku
Ulurkan tangan bantulah sesamamu
Tuhan Salah apakah mereka?

Sunatan Massal

Bukan lantaran kerjaan brutal
Ujungnya daging harus dipenggal
Di bumi insan makin berjejal
Hingga terjadi sunatan massal
Tersenyum ramah si bapak mantri
Kerja borongan dapat rejeki
Berbondong bondong bocah sekompi
Mesti dipotong ya disunatin
Si bapak mantri bukannya bengis
Meskipun tampak sedikit sadis
Kerinyut hidung bocah meringis
Sedikit tangis anunya diiris
Buyung menginjak masa remaja
Seiring doa ayah dan bunda
Sebagai bekal masa depannya
Agar menjadi anak yang berguna
Hei sunatan massal Aha aha
Sunatan massal Aha aha
Ditonton orang berjubal jubal
Banyak tercecer sepatu dan sandal
Hei hari bahagia Aha aha
Bersuka ria Aha aha
Ada yang berjoget tari India
Stambul cha-cha dan tari rabana
Hei sunatan massal Aha aha
Ditonton orang
Sunatan massal berjubal jubal
Banyak tercecer sepatu dan sandal

Menunggu Ditimbang Malah Muntah

Aku bernyanyi di dalam kamar mandi seorang diri
Disamping wastafel di samping kaca
Sambil menghisap kejenuhan
Majalah mingguan tergeletak di keranjang cucian
Gambar dua orang menteri
Sedang jabat tangan sambil tersenyum
Di atas kakus aku terus menulis
Menulis lagu lagu seimbang
Timbang menimbang ditimbang timbang
Timbang menimbang dibuang sayang
Yang paling besar pulang sekolah
Si bapak asyik sendiri
Suara mesin buyarkan maksud
Maksud siapa aku tak tahu
Adzan terdengar gemericik hujan
Mencari teman orang tertawa
Tunggu menunggu ditunggu tunggu
Tunggu menunggu dibuang sayang
Pelan pelan sayang Kalau mulai bosan
Jangan marah marah Nanti cepat mati
Santai sajalah
Seekor nyamuk terbang diatas majalah
Kadang hinggap lalu terbang lagi
Mengitari wajah politikus
Yang entah tersenyum atau sakit gigi
Lampu empat puluh watt
Bertopi pendekar Cina
Tetap saja merendah tidak berubah
Kartu nama seorang teman terlindas asbak
Yos tidur
Galang Cikal tidur
Hari ini ada berita
Polisi mati
Hari ini ada berita
Pembantu dibantai majikannya
Hari ini ada berita
Anak anak membunuh orang tuanya
Hari ini ada berita
Orang tua memperkosa anak anaknya
Hari ini ada berita
Guru guru banyak yang sakit jiwa
Hari ini ada berita
Orang orang kaya takut bangkrut
Hari ini ada berita
Mahasiswa protes
Merah putih cemang cemong
Mau insaf susah
Desa sudah menjadi kota
Burung hantu liar berbunyi terus
Yos bangun
Galang Cikal tidur
Yos tidur lagi
Jangkrik tidak berhenti
Belalang masih bernyanyi
Detik jam belum berhenti
Suara mobil sewenang wenang
Suara pabrik sama saja
Yos tidur
Galang Cikal tidur
Pelan pelan sayang
Kalau mulai bosan
Jangan marah marah
Nanti cepat mati
Santai sajalah

Hijau

Hutanku,
Rusak !
Langitku,
Bocor !
Udara yang aku hisap,
Tercemar !
Makanan yang aku makan,
Racun !
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau

Mata Indah Bola Ping Pong

Pria mana yang tak suka senyummu juwita
Kalau ada yang tak suka mungkin sedang goblok
Engkau baik Engkau cantik
Kau wanita Aku cinta
Mata indah bola ping pong Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai Hidungmu yang aduhai
Engkau baik Engkau cantik
Kau wanita Aku puja
Jangan marah kalau kugoda Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis Punya wajah teramat manis
Wajar saja kalau kuganggu Sampai kapan pun kurindu
Lepaskan tawamu nona Agar tak murung dunia
Engkau baik Engkau cantik
Kau wanita Aku cinta
Aku puja Kau betina
Bukan gombal Aku yang gila
Jangan marah kalau kugoda Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis Punya wajah teramat manis
Wajar saja kalau kuganggu Biar mampus aku rindu
Lepaskan tawamu nona Agar tak murung dunia
Mata indah bola ping pong Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai Hidungmu yang aduhai
Mata indah bola ping pong Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai Bibirmu yang aduhai
Mata indah bola ping pong Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai Pipimu yang aduhai
Mata indah bola ping pong Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai Jidatmu yang aduhai

Kontrasmu Bisu

Tinggi pohon tinggi berderet setia lindungi
Hijau rumput hijau tersebar indah sekali
Terasa damai kehidupan di kampungku
Kokok ayam bangunkan ku tidur setiap pagi
Tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
Gubuk gubuk liar yang resah di pinggir kali
Terlihat jelas kepincangan kota ini
Tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam
Lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
Diatas derita mereka masih bisa tertawa
Memang ku akui kejamnya kota Jakarta
Namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka
Jakarta oh Jakarta
Si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya
Luka si miskin semakin menganga
Jakarta oh Jakarta
Terimalah suaraku dalam kebisinganmu
Kencang teriakku semakin menghilang
Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan
Jakarta oh Jakarta
Angkuhmu buahkan tanya
Bisu dalam kekontrasannya
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta

Rinduku

Tolong rasakan ungkapan hati
Rasa saling memberi
Agar semakin erat hati kita
Jalani kisah yang ada
Ku tak pernah merasa jemu
Jika kau selalu disampingku
Begitu nyanyian rinduku
Terserah apakah katamu
Rambutmu matamu bibirmu kurindu
Senyummu candamu tawamu kurindu
Beri aku waktu sedetik lagi
Menatap wajahmu
Esok hari ini atau nanti
Mungkin tak kembali
Rambutmu matamu bibirmu kurindu
Senyummu candamu tawamu kurindu

Untuk Para Pengabdi

Kesetiaan masih ada
Setidaknya menjadi cita-cita
Itu sebabnya aku disini menemanimu
Siang malam kuberjaga
Di relung hatimu di dalam benakmu
Di setiap langkahmu mudah2an begitu
Silahkan engkau tertawa sepuas hatimu
Ku takkan pernah berpaling
Karena hinaan itu
Bahagia rasanya kalau engkau berduka
Untuk pengabdi lagu para pengabdi
Di puncak gunung
Di tengah-tengah samudera
Di dalam rimba
Di kebingungan desa dan kota
Ya .. ya .. ya .. ya

Untukmu Negeri

Perihnya masih terasa sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa sungguh mahal ongkosnya
Apapun yang akan terjadi aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi takkan pernah terjadi
Air mata darah telah tumpah
Demi ambisi membangun negeri
Kalaulah ini pengorbanan
Tentu bukan milik segelintir orang
Belum cukupkah semua ini
Apakah tidak berarti lihatlah wajah ibu pertiwi
Pucat letih dan sedihnya berkarat
Berdoa terus berdoa
Hingga mulutnya berbusa-busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu pertiwi hilang tawanya tak percaya masih ada cinta
Seluruh hidupku jadi siaga
Pagar berduri kutancapkan di hati
Untukmu negeri – yang telah memberi arti
Untukmu negeri – yang telah melukai ibu kami
Untukmu negeri – yang telah merampas anak kami
Untukmu negeri – yang telah memperkosa saudara kami
Untukmu negeri – waspadalah untukmu negeri – bangkitlah
Untukmu negeri – bersatulah
Untukmu negeri – sejahteralah
Kamu negeriku sejahteralah kamu

Seperti Matahari

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya
Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi
Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita
Ada benarnya nasehat orang-orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi

Doa

Berjamaah menyebut asma Allah
Saling asah saling asih saling asuh
Berdoalah sambil berusaha
Agar hidup tak jadi sia-sia
Badan sehat jiwa sehat
Hanya itu yang kami mau hidup berkah penuh gairah
Mudah-mudahan Allah setuju
Inilah lagu pujian nasehat dan pengharapan
Dari hati yang pernah mati
Kini hidup kembali


Di Ujung Abad

Cerita kuno tentang peperangan
Diujung abad menghantui setiap orang
Peralihan banyak memakan korban
Sementara segelintir tuan-tuan tertawa girang
Kekuasaan sudah menjadi tuhan
Pengkhianatan adalah panglima perang
Kesetiaan jadi janji murahan
Kisah inilah dongeng tidur bayi-bayiku
Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut
Walau hati panas bahkan terbakar sekalipun
Keluh kesah ini mungkin berguna
Jadikan teman sejati di medan juang
Bisa jadi kita bosan tapi kenyataan
Badai datang tak bosan-bosan
Waspadalah kawan perjuangan masih panjang
Oi .. oi .. oi ..
Cerita kuno tentang peperangan
Di ujung abad menghantui setiap orang
Kesetiaan jadi janji murahan
Kisah inilah dongeng tidur bayi-bayiku

15 Juli 1996

Kalau kau datang
Hatiku senang berbunga-bunga
Bulan dan bintang
Terangi malam sehabis hujan
Saling bicara, tukar cerita berbagi rasa
Aku disini tetap di tepi masih bernyanyi
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkan
Aku tak bisa
Untuk tak peduli hatiku tersiksa
Aku bersumpah untuk berbuat yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan
Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup kita hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan

Dendam Damai

Tak habis pikir aku tak mengerti
Mengapa ada orang yang senang membunuh
Hanya karena uang semata
Atau demi kuasa dan nama
Bagi kita rakyat biasa
Tak berdaya ditodong senjata
Mencuri hidup yang hanya sekali
Hanya berdoa yang kita bisa
Dendam-dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai-damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya
Kapan berakhirnya situasi seperti ini
Tidak bisakah kita saling berpelukan
Bukankah indah hidup bersama
Saling berbagi saling menyinta
Terasa hangat sampai ke jiwa
Memancar ke penjuru dunia
Jangan goyah percayalah teman
Perang itu melawan diri sendiri
Selamat datang kemerdekaan
Kalau kita mampu menahan diri
Hanya karena itu semua
Rela hancurkan tanah tercinta

Kota 2

Kota adalah rimba belantara buas dari yang terbuas
Setiap jengkal lorong terpecik darah
Darah dari iri, darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu yang tak pasti
Kota adalah rimba belantara liar dari yang terliar
Setiap detik taring-taring tajam mengancam
Setiap menit lidah-lidah liar rakus muncul, lapar
Tangis bayi adalah lolong srigala di bawah bulan
Lengking tinggi merobek batu-batu tebing keras dan kejam
Bernafas di antara sikut licik dan garang
Bergerak di antara ganasnya selaksa karang
Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar mencurai di depan mata
Siap menjerat leher kita
Tangis bayi adalah lolong srigala di bawah bulan
Lengking tinggi merobek batu-batu tebing keras dan kejam

140484

Tahukah kau, kurindu dirimu, tahukah kau
Rasakah kasih, cintaku putih, rasakah kasih
Saat gelisah begitu buas hancurkan jiwa
Saat tak kuat lagi memendam marah
Sungguh aku cinta kau
Jangan didik anak kita penakut
Jangan ajar anak kita pengecut
Tolong kabarkan tinjuku untuknya
Demi kebenaran yang nyata
Istriku manis senyum yang manis
Anakku jantan tertawalah lantang
Istriku manis jangan menangis
Anakku jantan murkalah jantan
Saat gelisah begitu buas hancurkan jiwa
Saat tak kuat lagi memendam marah
Sungguh aku sayang kau

Untuk Yani
Rembulan tenang dan bisu
Anak bangsa berjalan
Berdesakan bagai tikus di jalan yang licin
Berdesakan bertanya pada masa silam
Apa nasib bumi pertiwi?
Angin subuh mengukuri tubuh-tubuh hitam dengan kabut
Rembulan bisu nafasnya mengalir tenang
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Rembulan tenang dan bisu
Anak bangsa bergerak
Berdesakan didalam kereta malam
Berdesakan dari desa-desa ke kota
Apa nasib bumi pertiwi?
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho…
Rembulan tenang dan bisu
Anak bangsa berbaris
Berharapan di depan gerbang pendidikan
Berharapan bermimpi tentang masa depan
Apa nasib bumi pertiwi?
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho…
Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?


Sangkala

Apa yang ‘kan terjadi?
Ketika sosok sangkala
Diberi uang ‘tuk berkuasa
Kembanggaan nan semu
Kemegahan dalam penantian
Rusaknya tata kehidupan bumi
Bayi-bayi menjerit
Menerawang mati kerakusan
Akal tanpa nurani
Apa yang ‘kan terjadi?
Apa yang terjadi nanti?
Waktu kian meranggas
Kabut terbalik menghantam
Awan hitam kematian
Mata saling memandang
Semua bertanya-tanya
Berkata-kata tanpa suara
Apa yang ‘kan terjadi?
Apa yang terjadi kini?
Sangkala meyeringai menelan bumi ini
Oh… Oh… Oh… Oh… Oh…
Oh… Oh… Oh… Oh… Oh…
Oh… Oh… Oh… Oh… Oh…


Perempuan Malam

Perempuan malam mandi di kali
Buih-buih busa shampo ketengan
Diatas kepala lewat kereta
Yang berjalan lamban nakal menggoda
Disambut tawa renyah memecah langit
Dengus kereta semakin genit
Semua noda coba dibersihkan
Namun masih saja terlihat kotor
Karena kereta kirimkan debu
Yang datang tak mampu ia tepiskan
Perempuan malam kenakan handuknya
Setelah usap seluruh tubuhnya
Hangatkan tubuh di cerah pagi, pada matahari
Keringkan hati yang penuh tangis, walau hanya sesaat
Segelas kopi, sebatang rokok
Segurat catatan yang tersimpan
Perempuan malam menunggu malam
Untuk panjangnya malam
Perempuan malam diikat tali
Di hidup, di mimpi, di hatinya
Aku hanya lihat dari jembatan
Tanpa mampu untuk melepaskan
Perempuan malam dipinggir jerami
Nyanyikan doa, nyalakan api
Perempuan malam dipinggir jerami
Nyanyikan doa, nyalakan api

Orang Gila

Waktu pulang malam hari
Sendiri, sendiri
Orang gila di lampu penyebrangan
Jam dua malam
Lewat pada saat lampu sedang merah
Tepat di tengah-tengah zebra cross
Irama langkahnya tidak berubah
Seperti lagu lama
Yang aku dengar menuju pulang
Sendirian, ha… ha…
Orang gila di lampu penyebrangan
Rambutnya gimbal
Kumis dan jenggotnya jarang-jarang
Membawa gembolan
Entah gombalan atau makanan
Melangkah terus lurus kedepan
Melangkah terus lurus kedepan
Orang gila di lampu penyebrangan, apa kabar?
Siapa yang menyapa, kamu diam
Tersenyum tidak, menangis tidak
Kamu sapa siapa saja
Selamat malam, selamat malam
Waktu pulang malam hari
Sendiri, sendiri
Orang gila di lampu penyebrangan
Orang gila di lampu penyebrangan
Melangkah terus lurus kedepan
Melangkah terus lurus kedepan
Kamu sapa siapa saja
Selamat malam, selamat malam

Intro

Dalam gelap kuberjalan, membelah belantara akal
Sendiri, sendiri, selalu sendiri
Pada terang kumerenung, mencari kesejatian
Mencari, mencari, selalu mencari
Pada ruang, pada waktu, aku ingin datang
Pada ruang, pada waktu, aku ingin datang
Gitar kayu kumainkan, suaranya lahirkan tanya
Bertanya, bertanya, selalu bertanya

Nelayan

Bocah, telanjang dada di pesisir
Tunggu kembalinya bapak tercinta
Yang pergi tebarkan jala di sana
Berjuang di atas perahu tunggakan KUD
Ibu, dengan kebaya yang kemarin
Setia dari balik dapur menanti
Suaminya telah seminggu pergi
Tinggalkan rumah, tinggalkan sejengkal harapan
Langkah waktu lamban, bagai kura-kura
Ikan-ikan datang, mimpi…
Siang ganti malam, tetap sabar
Suamipun pulang, lelah…
Sambil berlari sang bocah hampiri bapak
Tagih janji yang dipesan ketika pergi
Sementara istrinya hanya memandang dengan senyum pasti
Sekilas terlintas hutang-hutang yang membelit
Sang bocah tak peduli, menangis keras tetap tagih janji
Perahu tunggakan KUD belum terbayar
Belum lagi tagihan rentenir sebrang jalan
Nelayan kecil, hasil kecil, nasibpun kecil
Terjerat jala dihantam kerasnya gelombang
Perahu tunggakan KUD belum terbayar
Hitam… Hidup…

Lancar

Sejak Palapaku mengorbit ke angkasa
Kemajuan teknologiku semakin menggila
Komunikasipun bertambah mudah
Walau itu jauh di luar kota
Di sana-sini dan di mana-mana
Terlihat berita tentang pembangunan
Terciptalah kini pemerataan
Nah… Bangsaku kini telah dipintu kemajuan
Tinggal semua perlu kesadaran
Jangan kita berpangku tangan
Teruskan hasil perjuangan
Dengan jalan apa saja
Yang pasti kita temukan
Asal jangan pembangunan dijadikan korban
Asal jangan pembangunan hanya untuk si tuan Polan
Asal jangan pembangunan dibuat kesempatan
Asal jangan pembangunan dijadikan korban
Asal jangan pembangunan bikin resah kaum susah
Asal jangan pembangunan bikin mandul hutan gundul
Asal jangan pembangunan bikin gendut kulit perut
Asal jangan pembangunan bikin subur kaum makmur
Asal jangan pembangunan bikin kotor meja kantor
Asal jangan pembangunan buat senang cacing-cacing
Asal jangan pembangunan…

Air Mata Api

Aku adalah lelaki tengah malam
Ayahku harimau, ibuku ular
Aku dijuluki “Orang Sisa-Sisa”
Sebab kerap merintih, kerap menjerit
Temanku hitam, temanku lagu
Nyanyikan tangis, marah, dan cinta
Temanku niat, temanku semangat
Yang kian hari kian berkarat, semakin berkarat
Aku berjalan orang cibirkan mulut
Aku bicara mereka tutup hidung
Aku tersinggung peduli nilai-nilai
Aku datangi dengan segunung api
Mereka lari ke ketiak ibunya
Ku tak peduli marahku menjadi
Mereka lari ke meja ayahnya
Aku tak mampu tenagaku terkuras
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Orang sisa-sisa menangis, orang sisa-sisa menangis
Air matanya, air matanya, air matanya api
Mereka lari ke ketiak ibunya
Ku tak peduli marahku menjadi
Mereka lari ke meja ayahnya
Aku tak mampu tenagaku habis terkuras
Air matanya, air matanya, air matanya api

Hua Ha Ha

Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha ha
Hua ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha ha
Bukalah mulut kamu
Lantangkan saja suaramu
Bebaskan jiwa kamu
Tidak apa-apa dianggap gila
Dari pada tak bisa tertawa
Tertawa itu sehat
Menipu itu jahat
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha
Hua ha ha ha ha ha
Hua ha ha ha

Dalbo

Sejak dilahirkan aku tak tahu
Siapa orang tuaku
Aku berpindah dari satu kasih sayang
Kesatu kasih sayang yang lain
Aku hisap air susu
Dari tetek banyak ibu
Merpati terbang melintasi
Membawaku pergi ke masa lalu
Ohhoo …
Ohhoo …
Ohhoo …
Aku tak pernah bertanya
Tentang siapa orang tuaku
Walau aku memang merasakan
Ada sesuatu yang hilang
Sesuatu yang hilang
Aku bukan anak haram
Aku DALBO anak alam
Aku DALBO anak wayang

Aku Bosan

Papiku belum pulang
Mamiku belum pulang
Kakakku belum pulang
Katanya cari uang
Hanya ada pembantu
Mengurusi hidupku
Hanya ada televisi
Menemani hariku
Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…
Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…
Ketika papi pulang
Mukanya sangat tegang
Ketika mami pulang
Menyapa hallo sayang
Ketika kakak pulang
Jalanya sudah goyang
Katanya cari uang…
Katanya cari uang…
Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…
Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…

Nak

Nak dengarlah bicara bapakmu
Yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dahulu mainan itu
Duduk dekat bapak sabar mendengar
Kau anak harapanku yang lahir di jaman gersang
Segala sesuatu hanya ada karena uang
Ya … ya … ya … ya …
Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang
Sekolah biasa saja jangan pintar-pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Pedulu titel didapat atau titel mu’jizat
Ya … ya … ya … ya …
Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
Agar mudah bergaul tentu banyak relasi
Jadi penjilat yang paling tepat
Karirmu cepat uang tentu dapat
Jadilah Dorna jangan jadi Bima
Sebab seorang Dorna punya lidah sejuta
O . . . . o . . . . o . . . . . o . . . .
Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak hutang
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya ada di komik
Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu-batu bikin jalanmu terhambat
Ya … ya … ya … ya …
Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sakit apalagi yang berkarat
Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet tahan kondisi
Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan murka

Berikan Pijar Matahari

Terhimpit gelak tertawa di sela meriah pesta
Seribu gembel ikut menari seribu gembel terus bernyanyi
Keras melebihi lagu tuk berdansa
Keras melebihi gelegar halilintar yang ganas menyambar
Ku yakin pasti terlihat dansa mereka begitu dekat
Ku yakin pasti terdengar nyanyi mereka yang hingar bingar
Seolah kita tidak mau mengerti
Seolah kita tidak pernah peduli pura buta dan pura tuli
Mari kita hentikan dansa mereka dengan memberi pijar matahari
Dengan memberi pijar matahari
Terkurung gedung – gedung tinggi
Wajah murung yang hampir mati
Biar kan mereka iri wajar bila mencaci maki
Nafas terasa sesak bagai terkena asma
Nampak merangkak degup jangtung keras berdetak
Tiap detik sepertinya hitam
Tak sanggup aku melihat luka mu kawan di cumbu lalat
Tak kuat aku mendengar jerit mu kawan melebihi dentum meriam

Teman Kawanku Punya Teman

Kawanku punya teman
Temannya punya kawan
Mahasiswa terakhir
Fakultas dodol
Lagaknya bak profesor
Pemikir jempolan
Selintas seperti sibuk mencari
Bahan skripsi
Kacamata tebal
Maklum kutu buku
Ngoceh paling jago
Banyak baca Kho Ping Ho
Bercerita temanku
Tentang kawan temannya
Nyatanya skripsi beli
Ooh di sana
Buat apa susah – susah
Bikin skripsi sendiri
Sebab ijasah
Bagai lampu kristal yang mewah
Ada di ruang tamu Hiasan lambang gengsi
Tinggal membeli Tenang sajalah
Saat wisuda datang dia tersenyum tenang
Tak nampak dosa di pundaknya
Sarjana begini banyakkah di negeri ini
Tiada bedanya dengan roti
Menangis orang tua lihat anaknya bangga
Lahir lah sudah si jantung bangsa
Aku hanya terdiam sambil kencing diam-diam
Dengar kisah temanku punya kawan

Guru Oemar Bakrie

Tas hitam dari kulit buaya
“Selamat pagi!”, berkata bapak Oemar Bakri
“Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!”
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu
Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S’lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
“Berkelahi Pak!”, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet… standing dan terbang
Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
“Berkelahi Pak!”, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut
Bakrie kentut… cepat pulang


Timur Tengah 2

Tuhan….tolong dengarkan
Nyanyian pinggir jalan
Malam di bawah bulan
Dalam waktu yang rawan
Marah di bawah tanah
Dilangit ada merah
Menuju satu arah…
Bakar… bakar…
Di sana ada bohong
Di sana ada mayat
Di sana ada suara…
Bum… bum…
Raut muka resah
Orang-orang susah
Ada banyak mata…
Buta…
Resah luka kaki
S’makin…menjadi…
Ada banyak kuping…
Tuli…
Malam hampir pagi
Debu jalan datang lagi
Malam hampir pagi
Usir mesin bunyi lagi
Malam hampir pagi
Kelicikan mulai lagi
Malam hampir pagi
Teriakku hilang lagi

Timur Tengah 1

Ada tanya dalam kepala
Waktu lihat muak yang hingar
Disetiap sudut
Ada mati dibalik tembok
Waktu timah panas mencabik
Hati nurani…
Merah… Merah… Merah… Merah… Di langit
Merah… Merah… Merah… Merah… Di tanah
Derap langkah bakar amarah
Kepal tangan hadirkan darah
Dibungkam diam…
Khabar angin didekat jantung
Bahwa hari sedang menangis
Tergores pedih hati
Merah… Merah… Merah… Merah… Di mata
Merah… Merah… Merah… Merah… Di lidah
Dengar… nyanyi anak kemarin
Tentang sedih tanah terkasih
Yang tak pernah habis
Doa… ibu sambil menangis
Antar bocah agar tak resah pergi ke pintu mati
Merah…di langit
Merah…di mata
Merah…di tangan
Merah…di lidah

Ethiopia

Dengar rintihan berjuta kepala
Waktu lapar menggila
Hamparan manusia tunggu mati
Nyawa tak ada arti
Kering kerontang meradang
Entah sampai kapan
Datang tikam nurani
Selaksa do’a penjuru dunia
Mengapa tak robah bencana
Menjerit Afrika mengerang Ethiopia
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Derap langkah sang penggali kubur
Angkat yang mati dengan kelingking
Parade murka bocah petaka
Tak akan lenyap kian menggema
Nafas orang-orang disana
Merobek telinga telanjangi kita
Lalat-lalat berdansa cha cha cha
Berebut makan dengan mereka
Tangis bayi ditetek ibunya
Keringkan airmata dunia
Obrolan kita dimeja makan
Tentang mereka yang kelaparan
Lihat sekarat dilayar Tv
Antar kita pergi ke alam mimpi
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Disana terlihat ribuan burung nazar
Terbang disisi iga-iga yang keluar
Jutaan orang memaki takdirnya
Jutaan orang mengutuk nasibnya
Jutaan orang marah…
Jutaan orang tak bisa berbuat apa-apa
Setiap detik selalu saja ada yang merintih
Setiap menit selalu saja ada yang mengerang
Aku dengar jeritan dari sini… aku dengar
Aku dengar tangismu dari sini… aku dengar
Namun aku hanya bisa mendengar
Aku hanya bisa sedih
Hitam kulitmu sehitam nasibmu kawan
Waktu kita asik makan waktu kita asik minum
Mereka haus… mereka lapar
Mereka lapar… mereka lapar

Columbia

Langit nampak murung seperti gelisah
Angin bawa kabar tentang duka, di sana…
Lolong anjing malam bawa pertanda
Alam bawa kisah unggas resah
Beritakan.. Tangis..
Saat gelombang lahar
Hanyutkan ribuan manusia
Tanpa mau mengerti datang tepati janji
Waktu seorang ibu
Belai mesra anaknya
Gemuruhnya petaka singkirkan jeritan yang ada
Batu-batu telanjang, menari di nurani
Hancurkan rumah-rumah, hancurkan kedamaian
Colombia… Colombia…
Sementara kita di sini
Tanpa beban bernyanyi
Sedangkan mereka gundah
Di sela ganasnya wabah
Sementara kita di sini
Asyik cumbui mimpi
Sedangkan mereka di sana
Rindukan riuhnya pesta
Ada sekuntum bunga mekar
Bercengkrama dengan lahar

Sore Tugu Pancoran

Si budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Kuli Jalan

Derap langkah dan reringat kuli pembuat jalan
Dengan pengki ditangan kiri, pacul di pundak kanan
Dengus nafasnya, terdengar bagai suara kereta
Keringat mereka menyengat aroma penderitaan
Berjalan gontai perlahan
Berbaris bagai tentara yang kalah perang
Kerja keras kau lakukan
Walau upah tak berimbang
Bak sapi perahan
Kuli jalan kerja siang dan malam
Kuli jalan peduli curah hujan
Kuli jalan panas tak dihiraukan
Kuli jalan upah jauh berimbang
Kuli jalan pahlawan terlupakan
Kuli jalan menangis di lubang galian
Kuli jalan resah di kaki tuan
Kuli jalan anak isteri menunggu bimbang

Balada Orang-orang Pedalaman

He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . Ya y a ya ho ya he . . . . . .
Balada orang-orang pedalaman
He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . Ya y a ya ho ya he . . . . . .
Di hutan di gunung dan di pesisir
He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
Manusia yang datang dari kota
Tega bodohi mereka
Lihat tatapannya yang kosong
Tak mengerti apa yang terjadi
He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
Tak tajam lagi tombak panah dan parang
He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . Ya y a ya ho ya he . . . . . .
Tak ampuh lagi mata dari sang pawang
Di mana lagi cari hewan buruan
Yang pergi karena senapan
Di mana mencari ranting pohon
Kalau sang pohon tak ada lagi . . . . . .
Pada siapa mereka tanyakan hewannya
Ya . . . . . Pada siapa tanyakan pohonnya
Saudaraku di pedalaman menanti
Sebuah jawaban yang tersimpan di hati
Lewatmu… kembali
Pada orang-orang pedalaman
Yang menari dan menyanyi
Dihalau bising ribuan deru gergaji

Aku Sayang Kamu

Susah…susah mudah kau kudekati
Kucari… engkau lari kudiam kau hampiri
Jinak burung dara justru itu kusuka
Bila engkau tertawa hilang semua duka
Gampang naik darah…omong tak mau kalah
Kalau datang senang…nona cukup ramah
Bila engkau bicara…setan logika
Sedikit keras kepala…ah dasar betina
Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Kuperlu kamu…sungguh perlu kamu
Engkau aku sayang…sampai dalam tulang
Banyak orang bilang…aku mabuk kepayang
Aku cinta kamu
Bukan cinta uangmu
Aku puja selalu setiap ada waktu
Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Ku perlu kamu…sungguh perlu kamu
Langsat kuning cina, warna kulit nona
Bibir merah muda, lesung pipit pun ada
Wajah cukup lumayan, dapat point enam
Kalau nona berjalan rembulan pun padam
Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Ku perlu kamu…sungguh perlu kamu

Aku Antarkan

Aku antar kau
Sore pukul lima
Laju roda dua
Seperti malas tak beringas
Langit mulai gelap
Sebentar lagi malam
Namun kau harus
Kembali tinggalkan kota ini
Saat lampu-lampu mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat dua kelok lagi
Stasiun bis antarkota pasti terlihat
Tak terasa seminggu
Sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
Alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
Habis kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
Tak bosan kau minta itu
Tiba ditujuan
Mesin kumatikan
Jariku kau genggam
Seakan enggan kau lepaskan

22 Januari

22 januari kita berjanji
Coba saling mengerti apa di dalam hati
22 januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati
Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa… sebentar lagi hujan
Dua buku teori kau pinjamkan aku
Tebal tidak berdebu ku baca selalu
Empat lembar fotomu dalam lemari kayu
Ku pandang dan ku jaga sampai kita jemu
Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa… sebentar lagi hujan

Ujung Aspal Pondok Gede

Di kamar ini aku dilahirkan
Di bale bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibuku
Nama dusunku ujung aspal pondok gede
Rimbun dan anggun
Ramah senyum penghuni dusunku
Kambing sembilan motor tiga
Bapak punya
Ladangnya luas habis sudah sebagai gantinya
Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Demi serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi
Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari
Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali

Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu
Angin genit menghembus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu dan jangan malu
Bahwa sebenarnya kita mampu
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan

Mata Dewa

Di atas pasir senja pantai kuta
Saat kau rebah di bahu kiriku
Helai rambutmu halangi khusukku
Nikmati ramah mentari yang pulang
Seperti mata dewa
Aku berdiri tinggalkan dirimu
Waktu sinarnya jatuh di jiwaku
Gemuruh ombak sadarkan sombongku
Ajaklah aku wahai sang perkasa
Seperti mata dewa
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku
Senja di hati
Lidah gelombang jilati batinku
Belaian karang sampai ke jantungku
Hingga matahari ajak aku pergi
Kasihku tulus setulus indahmu
Seperti mata dewa
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku

Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu…
Oh mengapa…
Oh…oh…oooo…
Jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita pengantar lelap si buyung
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang
Banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja
oh…oh…oooo…
Jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rejeki generasi nanti
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang
Banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Siang Seberang Istana

Seorang anak kecil bertubuh degil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata… yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaaan yang ada
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau…. tak terasa terganggu
Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
Di raihnya mimpi di genggam tak di letakkan… lagi

Doa Pengobral Dosa

Di sudut dekat gerbong yang tak terpakai
Perempuan ber make-up tebal dengan rokok di tangan
Menunggu tamunya datang
Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal dan segumpal harapan
Kapankah datang tuan berkantong tebal
Habis berbatang-batang tuan belum datang
Dalam hati resah menjerit bimbang
Apakah esok hari anak-anakku dapat makan
Oh Tuhan beri setetes rezeki
Dalam hati yang bimbang berdoa
Beri terang jalan anak hamba
Kabulkanlah Tuhan
Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal dan segumpal harapan
Kapankah datang tuan berkantong tebal
Dalam hati yang bimbang berdoa
Beri terang jalan anak hamba
Kabulkanlah Tuhan
Kabulkanlah Tuhan

Lonteku

Hembusan angin malam waktu itu
Bawa lari ku dalam dekapanmu
Kau usap luka di sekujur tubuh ini
Sembunyilah-sembunyi ucapmu…
Nampak jelas rasa takut di wajahmu
Saat petugas datang mencariku
Lonteku… terima kasih
Atas pertolonganmu di malam itu
Lonteku… dekat padaku
Mari kita lanjutkan cerita hari esok
Walau kita berjalan dalam dunia hitam
Benih cinta tak pandang siapa
Meski semua orang singkirkan kita
Genggam tangan erat-erat kita melangkah

Rindu Tebal

Sewindu sudah lamanya waktu
Tinggalkan tanah kelahiranku
Rinduku tebal kasih yang kekal
Detik ke detik bertambah tebal
Pagi yang kutelusuri riuh tak bernyanyi
Malam yang aku jalani sepi tak berarti
Saat kereta mulai berjalan
Rinduku tebal tak tertahankan
Terlintas jelas dalam benakku
Makian bapak usirku kupergi
Hanya menangis yang emak bisa
Dengan terpaksa kutinggalkan desa
Seekor kambing kucuri
Milik tetangga tuk makan sekeluarga
Bapak tak mau mengerti
Hilang satu anak tuk harga diri
Aku pergi meninggalkan coreng hitam di muka bapak
Yang membuat malu keluargaku
Ku ingin kembali mungkinkah mereka mau terima rinduku
Maafkan semua kesalahanku
Kursi kereta yang pasti tahu

Aku Bukan Pilihan

Kini ku mengungkapkan, siapakah dirinya
Yang mengaku kekasihmu itu
Aku tak bisa memahami
Ketika malam tiba
Ku rela kau berada
Dengan siapa kau melewatinya
Aku tak bisa memahami
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
Ternyata kau mendua, membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku, yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan
Selalu terungkap tanya, benarkan kini ada
Wanita yang kukenal hatinya
Aku tak bisa memahami
Tak perlu memilihku
Aku lelaki, bukan tuk dipilih

Kupu-Kupu Hitam Putih

Menunggu matahari terbit dimusim hujan
Mendung menjadi teman ada juga keindahannya
Butir embun yang ada di daun bagai intan berlian
Lebih riang ia berkilauan karena matahari tertutup awan
Suara burung – burung di dahan nyanyian alam
Bekerja ia mencari makan ada juga yang membuat sarang
Iri aku menyaksikan itu tapi kutekan aku harus bersyukur
Berguru pada kenyataan pada makhluk tuhan yang katanya tak berakal
Mendung datang lagi setelah hangat sebentar
Butir embun hilang aku jadi termenung
Mencari pegangan mencoba untuk bersandar
Langit makin hitam aku jadi berharap pada hujan
Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarku
Melihat ia menari hatiku terpatri
Sepasang merpati bercumbu di balik awan
Kemudian ia turun menukik sujud syukur pada-Nya

Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu

Tabir gelap yang lalu hinggap
Lambat laun mulai terungkap
Labil tawamu tak pasti tangismu
Jelas membuat aku sangat ingin mencari
Apa yang tersembunyi dibalik manis senyummu
Apa yang tersembunyi dibalik bening dua matamu
Dapat kutemui mengapa engkau tak pasti
Lalu aku coba untuk mengerti
Saat engkau tiba disimpang jalan
Lalu engkau bimbang untuk tentukan
Arah mana tempat tujuan
Jalan gelap yang kau pilih
Penuh lubang dan mendaki
Jalan gelap yang kau pilih
Penuh lubang dan mendaki

Jangan Tutup Dirimu

Dari hati yang paling dalam
Kudendangkan…
Sebuah lagu temani sepi
Sejenak iringi nurani
Ada jarak di antara kita
Selimuti sekian waktu
T’lah tersita
Ingin kubilang jarak terbentang….semoga
Datanglah kau kekasih
Dekap aku erat-erat
Jangan buang pelukku yang tulus
Biarkan hujan turun
Basahi jiwa yang halus
Jangan tutup dirimu
Buat apa kau diam saja
Bicaralah agar aku semakin tau
Warna dirimu duhai permata
Kau mimpiku… aku tak bohong
Seperti yang kau kira seperti yang s’lalu kau duga
Pintaku kau percayalah usah ragu
Datanglah kau kekasih
Dekap aku erat-erat
Jangan campakkan pelukku yang tulus
Biarkan hujan turun
Basahi jiwa yang kering
Jangan tutup dirimu

Sugali

Sua… sua… sua… suara berita
Tertulis dalam koran
Tentang seorang lelaki
Yang sering keluar masuk bui
Jadi buronan polisi
Dar…der…dor
Suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan
Punya ilmu kebal senapan
Semakin lupa daratan
Lihat Sugali menari di lokasi WTS kelas teri
Asyik lembur sampai pagi
Usai garong hambur uang peduli setan
Dig….did…..dug
Dig….did…..dug
Dig….did…..dug
Dig….did…..dug
Ramai gunjing tentang dirimu
Yang tak juga hinggap rasa jemu
Suram hari depanmu
Rasa was-was mata beringas
Menunggu datang peluru yang panas
Di waktu hari naas
Oo… bisik jangkrik di tengah malam
Tenggelam dalam dalam suara letusan
Kata berita di mana-mana
Tentang Sugali tak tenang lagi dan lari sembunyi
Lihat Sugali menari di lokasi WTS kelas teri
Asyik joget samapi lecet
Genit gitik cewek binal paling busyet

1910

Apakabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata… air mata…
Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata… air mata…
Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa
Aku bosan
Lalu terangkat semua beban dipundak
Semudah itukah luka-luka terobati…
Nusantara… tangismu terdengar lagi
Nusantara… derita bila terhenti
Bilakah… bilakah…
Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata… air mata…
O o o o o o o o o…
Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Ho . . . . ho . . . . . ho . . . .
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka
Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang

Mencetak Sawah

Kubaca koran pagi sambil ngopi
Ada kabar menarik hati
Konglomerat akan mencetak sawah
Di atas tanah milik siapa
Aku jadi berfikir
Untuk apa berupaya membuat sawah
Sebab tanah ini tak lagi berkah
Tak lagi… ramah
Semua kan sia-sia
Karena kami tak lagi makan nasi
Dari bumi pertiwi ini
Dari keringat pak tani
Tanah-tanah suburmu sudah menjadi ranjang industri
Menjadi ayunan ambisi-ambisi
Demi gengsi demi aksi
Untuk apa sawah-sawah
Pak taniku sudah pergi
Menjadi pejalan kaki
Yang… sepi

Semoga Saja Kau Benar

Berbondong-bondong orang cumbui angan di bibir pelabuhan
Tinggalkan tanah lahir desa tercinta menuju pulau surga
Selamat tinggal semua bukan aku tak cinta
Tiada lagi tersisa bahkan mimpi kubawa
Isak tangisan bayi dalam gendongan tak goyahkan lamunan
Raung sirine kapal jangkar diangkat segeralah berlayar
Selamat tinggal semua bukan aku tak cinta
Tiada lagi tersisa bahkan mimpi kubawa
Perlahan-lahan kapal jauhi tepi malas mengangkut mimpi
Mercu suar dermaga dan burung camar mengusap air mata
Selamat jalan kawan bukan aku tak cinta
Mungkin saja kau benar smoga saja kau benar

Mimpi Yang Terbeli

Berjalan di situ…di pusat pertokoan
Melihat-lihat barang-barang
Yang jenisnya beraneka ragam
Cari apa di sana….pasti tersedia
Asal uang di kantong cukup
Itu tak ada soal
Aku ingin membeli..kamu ingin membeli
Kita ingin membeli…semua orang ingin membeli
Apa yang dibeli…mimpi yang terbeli…
Sebab harga barang tinggi
Tiada pilihan selain mencuri…
Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli
Sampai nanti sampai habis terjual harga diri
Sampai kapan harga-harga itu melambung tinggi
Sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi
Segala produksi ada disini
Menggoda kita ‘tuk memiliki
Hari-hari kita berisi hasutan
Hingga kita tak tau diri sendiri
Melihat anak kecil mencuri mainan
Yang harganya tak terjangkau
Oleh bapaknya yang maling.

Ada Lagi Yang Mati

Aku lihat orang yang mati
Diantara tumpukan sampah
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam
Belakang pasar dekat terminal
Pagi itu orang berkerumun
Melihat mayat yang membusuk
Tutup hidung sesekali meludah
Aku lihat orang menangis
Disela gaduhnya suasana
Segera aku menghampiri
Dengan bimbang
Kubertanya padanya
Rupanya yang mati sang teman
Teman hitam hidup sepaham
Hanya kisah yang dilewati
Ia berdua ikat tali saudara
Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala
Sisa darah orang yang mati
Disimpannya di dalam hati
Lalu dia seperti batu
Sampai…malam
Sampai semuanya pergi
Belakang pasar dekat terminal
Adalagi orang yang mati
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam
Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala
Dendam ada di mana-mana
Di jantungku di jantungmu
Di jantung hari-hari
Dendam ada dimana-mana

Semoga Kau Tak Tuli Tuhan

Begitu halus tutur katamu,
Seolah lagu termerdu,
Begitu indah bunga-bungamu,
Diatas karya sulam itu,
Tampilkan kebajikan seorang Ibu,
Dengarlah detak jantung benihku,
Yang ku tanam di rahim mu,
Seakan pasrah menerima,
Semua warna yang kita punya,
Segala rasa yang kita bina,
Ku harap kesungguhanmu,
Kaitkan jiwa bagai sulam dikarya itu,
Ku harap keikhlasanmu,
Sirami benih yang ku tabur di tamanmu
Oh jelas, rakit pagar semakin kuat,
Tak goyah, Walau diusik unggas,
Pintaku pada Tuhan mulia,
Jauhkan sifat yang manja,
Bentuklah segala warna jiwanya,
Diantara lingkup manusia,
Diarena yang bau busuknya luka,
Bukakan mata pandang dunia
B’ri watak baja padanya
Kalungkan tabah kala derita
Semoga kau tak tuli Tuhan,
Dengarlah pinta kami sebagai orangtuanya

Suara Hati

Apa kabar suara hati
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati
Tanpa kau sepi rasanya hari
Kabar buruk apa kabar baik
Yang kau bawa mudah-mudahan baik
Dengar-dengar dunia lapar
Lapar sesuatu yang benar
Suara hati kenapa pergi
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi
Suara hati jangan pergi lagi
Kau dengarkah orang-orang yang menangis
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakah sakitnya orang-orang yang terlindas
Oleh derap sepatu pembangunan
Kau lihatlah pembantaian
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan
Lalu apa yang akan kau suarakan
Apa kabar suara hati
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati
Tanpa kau sepi rasanya hari

Sarjana Muda

Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Di sela bibir tampak mengering
Terselip s’batang rumput liar
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s’makin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
‘Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawaban
Termenung lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang di harapkan
Tergiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang di dambakan
Tak peduli berusaha lagi
Namun kata sama yang kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s’makin terlihat
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
“maaf ibu…”

Hadapi Saja

Relakan yang terjadi takkan kembali
Ia sudah miliknya bukan milik kita lagi
Tak perlu menangis tak perlu bersedih
Tak perlu tak perlu sedu sedanmu
Hadapi saja
Pasrah pada Ilahi
Hanya itu yang kita bisa
Ambil hikmatnya ambil indahnya
Cobalah menari cobalah bernyanyi
Cobalah-cobalah mulai detik ini
Hadapi saja
Hilang memang hilang
Wajahnya terus terbayangkan
Berjumpa di mimpi
Kau ajak aku untuk menari,
Bernyanyi bersama bidadari
Malaikat dan penghuni surga
Relakan yang terjadi takkan kembali
Ia sudah miliknya bukan milik kita lagi
Pasrah pada Ilahi hanya itu yang kita bisa
Ambil hikmatnya ambil indahnya
Tak perlu menangis tak perlu bersedih
Tak perlu tak perlu sedu sedan itu
Hadapi saja
Cobalah menari cobalah bernyanyi
Cobalah cobalah mulai detik ini
Hadapi saja

Yang Terlupakan

Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan
Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
Na….na….na….na O….maafkanlah
Na….na….na….na O….maafkanlah
Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyum mu tetap mengikuti

Kereta Tiba Pukul Berapa

Hilang sabar dihati dan tak terbendung lagi
Waktu itu
Lama memang kutunggu kedatanganmu
Sobat karibku
Datang telegram darimu
Dua hari yang lalu
Tunggu aku
Di stasiun kereta itu pukul satu
Ku pacu sepeda motorku
Jarum jam tak mau menunggu
Maklum rindu
Traffic light aku lewati
Lampu merah tak peduli
Jalan terus
Di depan ada polantas
Wajahnya begitu buas
Tangkap aku
Tawar menawar harga pas tancap gas
Sampai stasiun kereta
Pukul setengah dua
Duduk aku menunggu
Tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa
Biasanya…kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa
Dua jam mungkin biasa (cerita lama)

Kemesraan

Suatu hari Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi
Burung camar terbang bermain diderunya air
Suara alam ini hangatkan jiwa kita
Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa tercurah saat itu
Kemesraan ini… janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini… inginku kenang selalu
Hatiku damai… jiwaku tentram disamping mu
Hatiku damai… jiwa ku tentram bersamamu

Belalang Tua

Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang
Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang
Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak ke atas
Matanya melotot melihatku tak senang
Kakinya mencengkeram daun empat di depan dua di belakang
Bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar
Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah
Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah
Ooo Ooo Ooo Ooo Ooo Ooo
Blalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas
Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir

Ikrar

Meniti hari meniti waktu
Membelah langit belah samudra
Ikhlaslah sayang kukirim kembang
Tunggu aku . . . . tunggu aku
Rinduku dalam semakin dalam
Perjalanan pasti kan sampai
Penantianmu semangat hidupku
Kau cintaku kau intanku
Do’akanlah sayang
Harapkanlah manis
Suami segera kembali
Suamimu . . . suami yang baik
Kutitipkan semua yang kutinggalkan
Kau jagalah semua yang mesti kau jaga
Permataku . . . . aku percaya padamu

Hatta

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

PHK

Lelaki renta setengah baya
Geram di trotoar jalan
Saat panas tikam kepala
Seorang buruh disingkirkan
Bising mesin menyulut resah
Masih bisa engkau pendam
Canda anak istri di rumah
Bangkitkan kau untuk bertahan
Oh ya ya… Oh ya ya… Oh ya…….
Oh ya ya… Oh ya ya… Oh ya…….
Pesangon yang engkau kantongi
Tak cukup redakan gundah
Tajam pisau kepalan tangan
Antarkan kau ke pintu penjara
Oh ya ya… Oh ya ya… Oh ya…….
Oh ya ya… Oh ya ya… Oh ya…….
Sedanau nanah dari matamu
Tak mampu jatuhkan hati mereka
Serimba luka di dalam jiwa
Juga tak berarti
Hitam benak
Kini mulai akrab
Hitam benak
Isi hari-harimu
Kau tafakur di jeruji pengap
Kau menjerit coba melawan

Surat Buat Wakil Rakyat

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi para juara
Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu ‘setuju’

Besar dan Kecil

Kau seperti bis kota atau truk gandengan
Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sandal japit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit
Pada siapa ku mengadu
Pada siapa ku bertanya
Kau seperti buaya atau dinosaurus
Mentang-mentang menakutkan makan sembarangan
Aku seperti cicak atau kadal buntung
Tubuhku kecil mrengil sulit dapat untung
Pada siapa ku mengadu
Pada siapa ku bertanya
Mengapa besar selalu menang
Bebas berbuat sewenang-wenang
Mengapa kecil selalu tersingkir
Harus mengalah dan menyingkir
Apa bedanya besar dan kecil
Semua itu hanya sebutan
Ya.. walau di dalam kehidupan
Kenyataannya harus ada besar dan kecil

Nona

Sudah cukup jauh perjalanan ini
Lewati duka lewati tawa
Lewati sgala persoalan
Kucoba berkaca pada jejak yang ada
Ternyata aku sudah tertinggal
Bahkan jauh tertinggal
Bodohnya diriku tak percaya padamu
Lalu sempat aku berpikir
Untuk tinggalkan kamu
Nona, maafkan aku
Oh nona peluklah aku
Nona begitu perkasanya dirimu
Yakiniku
Nona marahlah padaku
Nona nonaku
Aku tak peduli apa kata mereka
Hari ini engkau di sini
Esok tetap di sini

Tince Sukarti Binti Machmud

Tince Sukarti Binti Machmud
Kembang desa yang berwajah lembut
Kuning langsat warna kulitnya maklum
Ayah arab ibunda cina
Tince Sukarti Binti Machmud
Ikal mayang engkau punya rambut
Para jejaka takkan lupa
Kerling nakal Karti memang menggoda
Jangankan lelaki muda terpesona yang
Tua jompo pun gila
Sejuta cinta antri dimeja berada
Sukarti hanya tertawa
Bibirmu hidungmu indah menyatu
Tawamu suaramu terdengar merdu
Tince Sukarti hobi memang diabernyanyi
Qasidah rock & roll
Dangdut keroncong ia kuasai…
Tince Sukarti ingin menjadi
Seorang penyanyi
Primadona beken Neng Karti selalu bermimpi
Ibu bapaknya enggan memberi restu
Walau sang anak merayu
Ttince Sukarti dasar kepala batu
kemas barang dan berlalu
Tince Sukarti berlari mengejar mimpi
Janji makelar penyanyi orbitkan sukarti
Jani sukarti hati persetan harga diri
Kembang desa layu tak lagi wangi seperti dulu

Di Mata Air Tidak Ada Air Mata

Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Di hembus angin terseret arus
Untuk saudara tercinta
Untuk Jiwa yang terluka
Tengah lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan denting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi
Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerkam
Kubernyanyi di matahari
Kupetik gitar di rembulan
Di balik bening mata air
Tak pernah ada air mata

Manusia Setengah Dewa

Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini

Ku Menanti Seorang Kekasih

Bila mentari bersinar lagi
Hatikupun ceria kembali … asyik
Kutatap mega tiada yang hitam
Betapa indah hari ini
Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang dihari ini
Adakah dia kan selalu setia
Bersanding hidup penuh pesona
Harapanku
Jangan kau tak menepati
Datanglah dengan kasihmu
Andai kau tak datang kali ini
Punah harapanku

Opiniku

Manusia sama saja dengan binatang
Selalu perlu makan
Namun caranya berbeda
Dalam memperoleh makanan
Binatang tak mempunyai akan dan pikiran
Segala cara halalkan demi perur kenyang
Binatang tak pernah tau rasa belas kasihan
Padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang
Namun kadangkala
Ada manusia seperti binatang
Bahkan lebih keji dari binatang
Tampar kiri kanan
Alasan untuk makan
Padahal semua tahu dia serba kecukupan
Himpit kiri kanan
Lalu curi jatah orang
Peduli sahabat kental kurus kering kelaparan

Imitasi

Join-join dong ayo kita kumpul duit
Dana siap kita berangkat
Pakaian rapi celana potongan napi
Taplak meja dirombak jadi dasi
Pergi kita cari sasaran
Malam ingin melepas keresahan
Lihat Popi pakai rok mini
Lihat Nancy pakai bikini
Tapi sayang sudah dibooking papi-papi
Otakku tegang begitupun kawan sejalan
Cepat putar haluan tancap gas kita ngacir
Pergi ke taman lawang
Paginya Toto malamnya Titi
Paginya Sunarto malam Sunarti
Paginya Ahmad malamnya Asye
Paginya Ismet malam Isye
Aku melongo persis kebo bego
Jidat mengkerut persis jidat Darto
Lihat itu potongan abisnya mirip perempuan

Bongkar

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang di perbudak jabatan
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
Sabar, sabar, sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus turun ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan jangan di teruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
Di jalan kami sandarkan cita-cita
Sebab dirumah tiada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Sumbang

Kuatnya belenggu besi
Mengikat kedua kaki
Tajamnya ujung belati
Menujam di ulu hati
Sanggupkah tak akan lari walau akhirnya pasti…
Di kepala tanpa baja
Di tangan tanpa senjata
Ukh itu soal biasa yang
Singgah di depan mata kita
Lusuhnya kain bendera
Di halaman rumah kita
Bukan satu alasan untuk kita tinggalkan
Banyaknya persoalan yang datang
Tak kenal kasian menyerang dalam gelap
Memburu kala haru dengan cara main kayu
Tinggalkan bekas biru lalu pergi tanpa ragu
Setan-setan politik kan datang mencekik
Walau dimasa paceklik tetap mencekik
Apakah slamanya politik itu kejam?
Apakah selamanya dia datang ‘tuk menghantam?
Ataukah memang itu yang sudah digariskan?
Menjilat, menghasut, menindas memperkosa hak-hak sewajarnya
Maling teriak maling sembunyi balik dinding
Pengecut lari terkencing-kencing
Tikam dari belakang
Lawan lengah diterjang
Lalu sibuk mencari kambing hitam
Selusin kepala tak berdosa
Berteriak hingga serak didalam negri yang congkak
Lalu senang dalang tertawa…he…he…he…he…

Galang Rambu Anarki

Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal januari menjelang pemilu
Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru menyambutmu
Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu ditandai bbm
Membumbung tinggi (melambung)
Reff:
Maafkan kedua orangtuamu kalau
Tak mampu beli susu
Bbm naik tinggi
Susu tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)
Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu

Ambulan Zig Zag

Deru ambulan memasuki pelataran rumah sakit yang putih berkilau
Didalam ambulan tersebut tergolek sosok tubuh gemuk bergelimang perhiasan
Nyonya kaya pingsan mendengar kabar putranya kecelakaan
Dan paramedis berdatangan kerja cepat
Dan langsung membawa korban menuju ruang periksa
Tanpa basa-basi, ini mungkin sudah terbiasa
Tak lama berselang sopir helicak datang
Masuk membawa korban yang berkain sarung
Seluruh badannya melepuh
Akibat pangkalan bensinnya meledak
Suster cantik datang mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban,
Dijawab dengan jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos….pengobatan
Hai sungguh sayang korban tak bawa uang
Suster cantik ngotot lalu melotot dan berkata
Silahkan bapak tunggu dimuka
Hai modar aku…..hai modar aku
Jerit si pasien merasa kesakitan
Suster cantik datang mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban,
Dijawab dengan jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos….pengobatan
Hai sungguh sayang korban tak bawa uang
Suster cantik ngotot lalu melotot dan berkata
Silakan bapak tunggu dimuka
Hai modar aku…..hai modar aku
Jerit si pasien merasa diremehkan
Hai modar aku…..hai modar aku
Jerit si pasien merasa kesakitan

Tikus – Tikus Kantor

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang disungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi
Di balik meja teman sekerja
Di dalam lemari dari baja
Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tidak terbukti ah tentu sikat lagi
Tikus-tikus tak kenal kenyang
Rakus-rakus bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang
Kucing-kucing yang kerjanya molor
Tak ingat tikus kantor datang men-teror
Cerdik licik tikus bertingkah tengik
Mungkin karena sang kucing
Pura-pura mendelik
Tikus tahu sang kucing lapar
Kasih roti jalanpun lancar
Memang sial sang tikus teramat pintar
Atau mungkin sikucing yang kurang ditatar !

Puing

Puing berserakan di segenap penjuru
Bekas pertempuran
Bau amis darah sisa asap mesinyur
Sesak nafasku
Mayat-mayat bergeletakan
Tak terkubur dengan layak
Dan burung-burung bangkit menatap liar
Dan burung-burung bangkai berdansa senang
Di ujung sana banyak orang kelaparan
Ujung lainnya, wabah busung menyerang
Di sudut sana banyak orang kehilangan
Sudut lainnya bayi bertanya bimbang:
“Mama kapan papah pulang?”
“Mama sebab apa perang?”
Banyak jatuh korban
Dari mereka yang tak mengerti apa-apa
Suara tangis terdengar dari bekas reruntuhan
Seorang ibu muda yang baru melahirkan
Lama meratapi sesosok mayat tubuh suaminya
Dan burung burung bangkai menatap liar
Dan burung-burung bangkai berdansa senang
Tinggi peradaban teknologi berkembang
Senjata hebat terciptakan
Sarana pembantaian semakin bisa diwujudkan
Oh, mengerikan……….
Berhentilah…
Jangan salah gunakan
Kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan
Dan burung burung bangkai menatap liar
Dan burung-burung bangkai berdansa senang

Jangan Bicara

Jangan bicara soal idealisme
Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
Atau berapa dahsyatnya
Ancaman yang membuat kita terpaksa onani
Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buat
Bisul tumbuh subur
Di ujung hidung yang memang tak mancung
Jangan perdebatkan soal keadilan
Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
Jangan cerita soal kemakmuran
Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan
Lihat di sana… Di urip meratap
Di teras marmer direktur mutat
Lihat di sana… Si icih sedih
Di ranjang empuk waktu majikannya menindih
Lihat di sana…. Parade penganggur
Yang tampak murung di tepi kubur
Lihat di sana……. Antrian pencuri
Yang timbul sebab nasinya dicuri
Jangan bicara soal runtuhnya moral
Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
Atau tentang tanggung jawab
Yang kini dianggap sepi

Entah

Entah mengapa aku tak berdaya
Waktu kau bisikkan, “Jangan aku kau tinggalkan”
Tak tahu di mana ada getar terasa
Waktu kau katakan, “Kubutuh dekat denganmu”
Seperti biasa aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi
Bibir tipismu yang menari
Seperti biasa aku tak sanggup berjanji
Hanya mampu katakan, “Aku cinta kau saat ini”
Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah
Sungguh mati betina
Aku tak mampu beri sayang yang cantik
Seperi kisah cinta di dalam komik
Sungguh mati betina
Buang saja angan angan itu
Lalu cepat peluk aku
Lanjutkan saja langkah kita
rasalah….
rasalah….
Apa yang terasa

Gali Gongli

Lelaki kecil usia belasan
Rokok ditangan depan kedai tuak
Disela gurau tiga temannya
Di atas koran asyik main domino
Di lokalisasi pinggiran kota
Yang nama dosa mungkin tak bicara
Neraka poster indah kamar remang
Engkau lahir lelaki kecil malang
Reff:
Gali gongli bocah karbitan
Besar dari belaian ribuan bapak
Gali gongli anak rembulan
HIdup dari bibir yang Iklankan tubuh mulus ibunya…….
Lelaki kecil usia belasan
Usai berjudi pagi habis subuh
Kembali….ia ditelan sepi
Entah esok apalagi
Hari depan…
Hari depan…

Engkau Tetap Sahabatku

Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi
Dia adalah yang terbuang mengetuk pintuku
Penuh luka dipunggungnya merah hitam
Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang
Bapaknya pegawai kecil kelas sendal jepit
Yang kini di dalam penjara sebab bela anaknya
Untuk darah daging yang tercinta selesaikan sekolah
Sahabatku gantikan bapaknya coba mencari kerja
Namun yang didapat cemooh harga dirinya berontak
Lalu dia tetapkan hati hancurkan sang pembuang
Air putih aku hidangkan aku dipersimpangan
Aku hitung semua lukanya seribu bahkan lebih sejuta lebih
Pagi buta dia berangkat diam-diam
Masih sempat selimuti aku yang tertidur
Aku terharu do’aku untukmu ooo
Sebutir peluru yang tertinggal dibawah bantalnya
Kuberi tali jadikan kalung lalu ku kenakan
Sekedar mengingatmu kawan yang terus berlari
Selamat jalan kawan selamat renangi air mata
Hey sahabat yang terbuang engkau sahabatku tetap sahabatku
Engkau sahabatku tetap sahabatku…


Belum Ada Judul

Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Di gilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah . . . . . lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai sa’at kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah . . . . . . . kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara . . .
Di hati . . . . . .
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga sa’at kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Potret
Melihat anak-anak kecil berlari-larian
Di perempatan jalan kota-kota besar
Mengejar hari yang belum dimengerti
Sambil bernyanyi riang menyambut resiko
Melihat anak-anak sekolah berkelahi
Di pusat keramaian kota-kota besar
Karena apa tak ada yang mengetahui
Sementara darah yang keluar bertambah banyak
Melihat anak-anak muda di ujung gang
Berkelompok tak ada yang dikerjakan
Selain mengeluh dan memanjakan diri
Hari esok bagaimana besok
Mendengar orang-orang pandai berdiskusi
Tentang kesempatan yang semakin sempit
Tentang kemunafikkan yang kian membelit
Tetapi tetap saja tinggal omongan
Merasa birokrat bersilat lidah
S’perti tukang obat di jalanan
Mencoba meyakinkan rakyat
Bahwa di sini seperti di surga
Tak adakah jalan keluar?

Buku Ini Aku Pinjam

Dikantin depan kelasku disana kenal dirimu
Yang kini tersimpan dihati jalani kisah sembunyi
Dihalte itu kutunggu senyum manismu kekasih
Usai dentang bel sekolah kita nikmati yang ada
Seperti hari yang lain
Kau senyum tersipu malu
Ketika ku sapa engkau
Genggamlah jari… Genggamlah hati… ini
Memang usia kita muda namun cinta soal hati
Biar mereka bicara telinga kita terkunci
Dia tahu… dia rasa…
Maka tersenyumlah kasih…
Tetap langkah… Jangan hentikan…
Cinta ini milik kita… he’eh…
Buku ini aku pinjam kan kutulis sajak indah
Hanya untukmu seorang
Tentang mimpi-mimpi malam

Frustrasi

Generasiku banyak yang frustrasi
Broken home istilah bule-bule luar neg’ri
Mereka muak,
lihat papi mami bertengkar
Mereka jijik,
lihat papi mami selalu ke luar
Ada urusan yang tak masuk di akal
Mami sibuk cari bujangan
Papi sibuk cari perawan
Timbang kesal
Lebih baik aku berkhayal
Jadi orang besar
Seperti Hitler yang tenar
Jadi orang tenar
persis Carter juragan kacang……
Mata cekung
Badan persis capung
Tingkah sedikit bingun
Pikiran mirip-mirip
orang linglung
Rambut selalu kusut
Disuruh selalu manggut-manggut
Duduk di sudut
Hai, kasihan itu tubuh
Tinggal tulang sama kentut
Hai, mister gele
lu tega mata gua kok nggak bisa melek
Hai, mister gele
Duit gope gua kira cepe
Hai, mister gele……
Perut laper ada tape
Pas gua sikat asem-asem
Nggak taunya tele

Ya Atau Tidak

Bicaralah nona, jangan membisu
Walau s’patah kata tentu kudengar
Tambah senyum sedikit apa sih susahnya
Malah semakin manis semanis tebu
Engkau tau isi hatiku
Semuanya sudah aku katakan
Ganti kamu jawab tanyaku
Ya atau tidak itu saja
Bila hanya diam aku tak tahu
Batu juga diam, kau kan bukan batu
Aku tak cinta pada batu
Yang aku cinta hanya kamu
Jawab nona dengan bibirmu
Ya atau tidak itu saja
Tak aku pungkiri aku suka wanita
Sebab aku laki-laki masa suka pria
Kau kuraslah isi dadaku
Aku yakin ada kamu di situ
Jangan diam bicaralah
Ya atau tidak itu saja

Aku Di Sini

Mengantuk perempuan setengah baya
Di bak terbuka mobil sayuran
Jam tiga pagi itu
Tangannya terangkat saat sorot lampu
Mobilku menyilaukan matanya
Aku ingat ibuku . . . . . . .
Aku ingat istri dan anak perempuanku
Separo jalan menuju rumah
Sa’at lampu menyala merah
Di depan terminal bis kota
Yang masih sepi
Aku melihat seorang pelacur
Tertidur mungkin letih atau mabuk
Aku ingat ibuku . . . . . . . .
Aku ingat istri dan anak perempuanku
Di bawah temaram sinar merkuri
Bocah telanjang dada bermain bola
Oh . . . . . . . . . . pagi yang gelap
Kau sudutkan aku
Suara kaset dalam mobil aku matikan
Jendela kubuka
Angin pagi dan nyanyian sekelompok
Anak muda mengusik ingatanku
Aku ingat mimpiku
Aku ingat harapan yang semakin hari
Semakin panjang tak berujung
Perempuan setengah baya
Pelacur yang tertidur
Bocah-bocah bermain bola
Anak muda yang bernyanyi
Sebentar lagi ayam jantan kabarkan pagi
Hari-harimu menagih janji
Aku disini . . . . . . ya . . . aku disini
Ingat ibu istri dan anak- anakku

Coretan Dinding

Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tepi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan di dinding
Adalah pemberontakan Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah
Ditiap kota . . . . . . . .
Cakarnya siap dengan kuku-kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah


Bento

Namaku Bento, rumah real estate
Mobilku banyak, harta melimpah
Orang memanggilku, bos eksekutif
Tokoh papan atas, atas sgalanya, asik!
Wajahku ganteng, banyak simpanan
Sekali lirik, oh bisa jalan
Bisnisku menjagal, jagal apa saja
yang penting aku senang, aku menang
Persetan orang susah, karena aku
Yang penting asik, sekali lagi, asik!
Obral soal moral, omong keadilan, sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu, lobi dan upeti, woo jagonya
Maling kelas teri, bandit kelas coro, itu kantong sampah
Siapa yang mau berguru, datang padaku, sebut 3 kali namaku
Bento bento bento.. asik..

Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu…

Ijinkan Aku Menyayangimu

Andai kau ijinkan
walau sekejap memandang
kubuktikan kepadamu
aku meiliki rasa
Cinta yang kupendam
tak sempat aku nyatakan
karena kau telah memilih
menutup pintu hatimu
Ijinkan aku membuktikan
inilah kesungguhan rasa
ijinkan aku menyayangimu
Sayangku oh
dengarkanlah isi hatiku
cintaku oh
dengarkanlah isi hatiku
Bila cinta tak mungkin menyatukan kita
bila kita tak mungkin bersama
aku tetap menyayangimu
aku sayang padamu

Ancur

Namamu slalu kubisiki, dalam tidurku
Dalam mimpiku, setiap malam
Hangat tubuhmu, melekat dikulitku
Beribu peluk beribu cium kita lalui
Tapi kau kabur
Dengan duda anak 3 pilihan ibumu
Hatiku hancur
Berserakan, berhamburan kayak jeroannya binatang
Reff:

Ya……. Sudahlah
kumenangis seadanya sekuat tenaga
ya… sudah…lah…
kau memang setan alas nggak punya perasaan

Ancur……
Doaku diakad nikahmu
Smoga siduda diracun orang
Biar cepet mampus


Senandung Lirih

Kau wanita terindah
Yang pernah ku taklukan
Kau kenapa kau pergi
Kenapa kau pergi

Kau wanita terhebat
Yang pernah memelukku
Kau kenapa kau pergi
Kenapa kau pergi
Helai udara di sekitarku
Senandung lirih namamu
Tiap sudut kota
Yang kudatangi
Senandung lirih namamu

Kau wanita termegah
Yang pernah kudapatkan
Kau kemana kau pergi
Kemana kau pergi
Smoga kau temukan
Apa yang kau cari
Yang tak kau dapatkan dari aku (2x)

Helai udara disekitarku
Senandung lirih namamu
Kemanapun kau akan melangkah
Aku yang selalu mengenangmu (2x)

Pesawat Tempurku

Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar
Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu
Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum
Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur

Hey … !!! kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyi
Sebentar saja nona sebentar saja hanya sebentar
Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak
Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak

Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kau
Jangan bilang tidak bilang saja iya ……………..
Iya lebih baik daripada kau menangis ……………..

Reff :
 Penguasa …!!!Penguasa …!!! berilah hambamu uang
Beri hamba uang …!!! beri hamba uang …!!!
Oh Ya … andaikata dunia tak punya tentara
Tentu tak ada perang yang banyak makan biaya
Oh ya … andaikata dana perang buat diriku
Tantu kau mau singgah bukan cuma tersenyum
Kalau hanya senyum yang engkau berikan
Westerling pun tersenyum
Oh … singgahlah sayang, pesawat tempurku
Mendarat mulus didalam sanubariku ….


OI BATAM ©2010 Blog Designed by Jls Solin

All Images Froom JlsSolinmikemana Anakpemulung Gelandangpengagguran YangGilatidakwarastidak